Wakapolri: Ancaman Terorisme Kini Menyusup Halus Lewat Ruang Digital dan Budaya Visual

- Rabu, 20 Mei 2026 | 14:25 WIB
Wakapolri: Ancaman Terorisme Kini Menyusup Halus Lewat Ruang Digital dan Budaya Visual
PARADAPOS.COM - Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengungkapkan adanya pergeseran pola ancaman terorisme di era digital yang kini tidak lagi mudah dikenali, melainkan menyusup secara halus melalui ruang digital dan budaya visual. Hal ini disampaikan dalam bedah buku berjudul “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” yang digelar di sela rapat kerja teknis (Rekrnis) Densus 88 Antiteror Polri di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/5/2026). Buku tersebut ditulis oleh Komjen Dedi bersama Kepala BNPT Komjen (Purn) Eddy Hartono dan Kadensus 88 AT Polri Irjen Sentot Prasetyo.

Ancaman Ekstremisme Modern Semakin Cair

Dalam paparannya, Dedi menjelaskan bahwa ekstremisme modern saat ini bersifat lebih cair dan tidak selalu terikat pada struktur organisasi formal. Ancaman tumbuh melalui interaksi sosial di dunia maya serta paparan informasi berulang yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir seseorang. “Ancaman saat ini bergerak lebih cepat dibanding pola penanganan lama. Karena itu, kita perlu membangun kemampuan membaca gejala lebih awal, memperkuat pencegahan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat,” kata Komjen Dedi dalam keterangannya.

Perubahan Strategi Penanganan

Dedi menekankan bahwa perubahan pola ini harus diikuti dengan perubahan cara berpikir dan strategi penanganan yang lebih adaptif. Menurutnya, literasi digital, perlindungan anak, serta penguatan peran keluarga dan sekolah menjadi benteng utama dalam strategi pencegahan jangka panjang. “Buku ini tidak hanya berbicara tentang ancaman, tetapi juga menawarkan cara melihat keamanan sebagai tanggung jawab bersama,” ucap Dedi.

Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan

Lebih lanjut, Dedi menilai keamanan di masa depan tidak bisa hanya mengandalkan peran aparat kepolisian. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan hingga penyedia platform digital, untuk membaca gejala ancaman sebelum menjadi nyata. Suasana bedah buku yang berlangsung di tengah forum teknis itu tampak dihadiri oleh sejumlah personel Densus 88 dari berbagai daerah, menunjukkan keseriusan institusi dalam menyikapi ancaman yang kian kompleks.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar