PARADAPOS.COM - Lebih dari 640 ribu warga Lebanon yang sempat mengungsi akibat konflik bersenjata antara Hizbullah dan Israel kini mulai kembali ke rumah mereka masing-masing. Gencatan senjata yang mulai berlaku pekan ini menandai meredanya pertempuran sengit yang berlangsung sejak awal Maret 2026. Ketegangan regional ini dipicu oleh serangan roket Hizbullah ke Israel sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Kronologi Konflik yang Mengguncang Lebanon Selatan
Situasi di Lebanon selatan sempat menjadi sangat mencekam. Pada 2 Maret 2026, Hizbullah—faksi yang didukung penuh oleh Teheran—meluncurkan roket ke arah Israel. Langkah ini merupakan respons langsung atas peristiwa yang menewaskan Ali Khamenei. Israel tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan serangan udara besar-besaran yang menghujani berbagai titik di Lebanon, diikuti dengan invasi darat ke wilayah selatan.
Hingga berita ini diturunkan, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah di Lebanon selatan. Pendudukan ini menjadi salah satu isu paling sensitif dalam proses gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Dampak Kemanusiaan yang Mencekam
Otoritas Lebanon mencatat angka yang memprihatinkan. Serangan Israel telah menewaskan sekitar 4.300 orang. Lebih dari satu juta jiwa terpaksa mengungsi, mayoritas berasal dari Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Mereka meninggalkan rumah, ladang, dan mata pencaharian dalam waktu singkat.
“Kami pergi hanya dengan membawa dokumen dan pakaian yang kami pakai,” ujar seorang warga pinggiran selatan Beirut kepada awak media di lokasi pengungsian. “Sekarang kami pulang, tapi tidak tahu apakah rumah masih berdiri.”
Kembalinya para pengungsi ini menjadi secercah harapan di tengah luka yang masih menganga. Namun, proses rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.
Respons Internasional dan Harapan ke Depan
Dari laporan yang dihimpun, proses pemulangan pengungsi berlangsung secara bertahap. Pemerintah Lebanon bekerja sama dengan badan-badan kemanusiaan untuk memastikan jalur aman bagi warga yang kembali. Meski gencatan senjata telah disepakati, situasi di lapangan masih rapuh. Suara tembakan sesekali masih terdengar di beberapa titik perbatasan.
Para analis menilai bahwa meredanya konflik ini tidak serta-merta menghilangkan akar masalah. Ketegangan antara Hizbullah dan Israel, serta keterlibatan aktor regional seperti Iran, masih menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Untuk saat ini, warga Lebanon hanya bisa berharap agar perdamaian yang baru lahir ini tidak berumur pendek.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
DTKJ Usulkan Tarif Tunggal Rp5.000 untuk Seluruh Transportasi Umum di Jakarta
KPK: Pengembalian Amplop oleh Menteri Kehutanan Tak Hapus Unsur Pidana
KSP Percepat Pembangunan Fasilitas CNG di Tanjung Enim untuk Perkuat Ketahanan Energi dan Buka Lapangan Kerja
Argentina Vs Tanjung Verde di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Messi Jadi Andalan Hadapi Kolektivitas Lawan