Menteri Keuangan Optimistis IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tekanan Global

- Jumat, 22 Mei 2026 | 00:50 WIB
Menteri Keuangan Optimistis IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tekanan Global
PARADAPOS.COM - Sejumlah berita ekonomi mewarnai pemberitaan pada Kamis, 21 Mei 2026, dengan topik utama seputar optimisme Menteri Keuangan terhadap penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam sehari, rupiah ditutup turun 0,08 persen ke level Rp17.667 per dolar AS, sementara harga minyak dunia justru menanjak hingga menyentuh USD105 per barel. Di sisi lain, pemerintah tengah menggodok pembentukan badan ekspor nasional dan mencatatkan arus masuk bersih investasi ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp13,4 triliun.

Optimisme di Tengah Tekanan Pasar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa IHSG akan kembali bergerak naik. Ia menilai, langkah tersebut baru akan terjadi setelah para investor sepenuhnya memahami dampak dari pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus yang fokus pada sektor ekspor. "Purbaya pede IHSG akan kembali naik," ujarnya dalam pernyataan yang dirilis kemarin. Keyakinan ini muncul di saat pasar saham global tengah diliputi ketidakpastian. Namun, pemerintah tampak berupaya memberikan sinyal stabilitas melalui kebijakan fiskal yang terukur.

Rupiah Tertekan, Minyak Dunia Justru Melonjak

Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah 0,08 persen, menjadikan posisinya terparkir di level Rp17.667. Pelemahan ini terjadi seiring dengan sentimen global yang masih kuat terhadap mata uang safe haven. Sementara itu, harga minyak dunia justru mencatatkan kenaikan signifikan. Pada perdagangan awal Asia, harga minyak Brent berhasil menyentuh angka USD105 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan Washington untuk menyerang Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan damai.

Langkah Strategis Pemerintah: Badan Ekspor dan Surat Berharga Negara

Di dalam negeri, pemerintah terus bergerak cepat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menggelar rapat bersama sejumlah menteri untuk membahas rencana pembentukan badan ekspor nasional. Rencana ini sebelumnya telah diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) pada Sidang Paripurna DPR. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat daya saing ekspor Indonesia di tengah ketidakpastian global. Di sisi lain, minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tetap tinggi. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan bahwa Surat Utang Negara (SUN) mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscription) sebesar 2,4 kali lipat. "Catat arus masuk bersih Rp13,4 triliun, Wamenkeu: minat investor ke SBN tetap tinggi," jelasnya. Sementara itu, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) bahkan mencatatkan angka yang lebih tinggi, yakni 2,8 kali lipat dari jumlah yang ditawarkan. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap instrumen utang pemerintah Indonesia masih solid.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar