PARADAPOS.COM - Jakarta: Fungsi legal dan kepatuhan di perusahaan kini tidak lagi sekadar menjalankan kewajiban administratif. Peran ini telah bertransformasi menjadi fondasi strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan daya saing di tengah kompleksitas tantangan global. Hal ini mengemuka dalam gelaran Indonesia Regulatory Compliance Awards (IRCA) 2026, yang berlangsung di Jakarta pada akhir pekan lalu. Acara ini dirancang sebagai forum apresiasi sekaligus ruang strategis untuk memperkuat budaya kepatuhan dan tata kelola perusahaan di Indonesia.
Peran Legal dan Compliance Kian Strategis
Di tengah ketidakpastian geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan perlambatan ekonomi dunia, fungsi legal dan compliance justru semakin dibutuhkan. Percepatan transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) hingga meningkatnya tuntutan terhadap transparansi Environmental, Social, and Governance (ESG), perlindungan data, dan tata kelola perusahaan turut menghadirkan tantangan regulasi yang semakin rumit bagi dunia usaha.
Chief Executive Officer Hukumonline, Arkka Dhiratara, menegaskan bahwa posisi legal dan compliance kini berada di garis depan. "Saat ini, legal dan compliance tidak lagi berada di belakang layar. Perannya bukan hanya memastikan perusahaan patuh terhadap regulasi, tetapi juga membantu perusahaan bergerak lebih cepat, lebih adaptif, dan lebih percaya diri di tengah perubahan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu, 24 Mei 2026.
Partisipasi IRCA 2026 Membludak
Menariknya, kesadaran perusahaan terhadap pentingnya budaya kepatuhan terus meningkat. Hal ini tercermin dari jumlah partisipasi IRCA 2026 yang mencapai lebih dari 130 perusahaan dari berbagai sektor industri. Angka ini menunjukkan bahwa kepatuhan tidak lagi dipandang sebelah mata.
"Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa budaya kepatuhan di Indonesia semakin berkembang menjadi bagian penting dari strategi perusahaan," tutur Arkka.
Acara ini tidak hanya berhenti pada seremoni penghargaan. IRCA 2026 diperluas menjadi forum strategis yang lebih komprehensif melalui penyelenggaraan Regulatory Compliance Summit dan Regulatory Compliance Breakout Sessions. Kedua forum tersebut menjadi wadah diskusi seputar perkembangan regulasi, tata kelola perusahaan, manajemen risiko, ESG, perlindungan data, hingga tantangan kepatuhan lintas yurisdiksi.
Penjurian yang Dinamis dan Mendalam
Perwakilan Dewan Juri IRCA 2026, Natalia Soebagjo, mengamati adanya perkembangan positif dalam praktik kepatuhan perusahaan di Indonesia. Menurutnya, semakin banyak perusahaan mulai memandang kepatuhan sebagai bagian integral dari keberlanjutan bisnis, bukan sekadar pemenuhan kewajiban formal.
"Sebagai Dewan Juri, kami tidak hanya melihat dokumen atau prosedur, tetapi bagaimana budaya kepatuhan benar-benar dijalankan dalam praktik sehari-hari," jelas Natalia.
Ia menambahkan, proses penjurian tahun ini berlangsung dinamis karena tingginya kualitas submission yang diterima. Penilaian dilakukan secara menyeluruh melalui evaluasi, pendalaman, dan diskusi antardewan juri dengan mempertimbangkan karakteristik bisnis serta tantangan regulasi di masing-masing sektor industri.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Jemaah Haji dari Negara Barat Tetap Berdatangan ke Makkah Meski Ada Peringatan Perjalanan AS
PBNU: Iduladha 1447 H Jadi Pengingat Nilai Kesabaran dan Pengorbanan di Tengah Ketegangan Global
Asabri Perkuat Program TJSL di Hari Kebangkitan Nasional, Fokus pada Stunting hingga Lingkungan
Harga Emas Antam Terkoreksi, BPNT Tahap Kedua Cair, dan IHSG Menguat Jadi Sorotan Ekonomi Pekan Ini