PARADAPOS.COM - Tepat pada 10 Juli 1985, dunia dikejutkan oleh aksi sabotase yang menenggelamkan kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace di Pelabuhan Auckland, Selandia Baru. Kapal tersebut dibom oleh agen rahasia Prancis dari Direction Générale de la Sécurité Extérieure (DGSE), sebuah peristiwa yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu serangan paling kontroversial terhadap organisasi lingkungan. Insiden ini diduga kuat terkait dengan penolakan Greenpeace terhadap uji coba nuklir Prancis di Pulau Mururoa. Selain peristiwa itu, tanggal yang sama juga mencatat deklarasi perang Raja Louis XVI terhadap Inggris, pembentukan Kabinet Kerja I di Indonesia, kemerdekaan Bahama, serta kemenangan perdana Portugal di Piala Eropa.
Kapal Rainbow Warrior Dibom di Pelabuhan Auckland
Pada pagi hari 10 Juli 1985, kapal Rainbow Warrior yang menjadi andalan Greenpeace untuk kampanye lingkungan, mendadak menjadi sasaran penghancuran. Dua buah bom meledak di lambung kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Auckland, menyebabkan kapal tersebut tenggelam dalam waktu singkat. Investigasi kemudian mengungkap bahwa pelaku adalah agen dari DGSE, dinas intelijen luar negeri Prancis.
Rainbow Warrior bukan sekadar kapal biasa. Ia adalah simbol perlawanan terhadap perusakan lingkungan, dan saat itu tengah bersiap untuk memprotes uji coba nuklir yang dilakukan Prancis di Polinesia Prancis. Para aktivis di dalamnya sempat mengalami tekanan dan teror akibat aksi mereka.
"Kapal itu menjadi sasaran sabotase yang diduga berkaitan dengan penolakan Greenpeace terhadap uji coba nuklir Prancis di Pulau Mururoa," demikian catatan dari laporan peristiwa tersebut.
Sejak 1989, Rainbow Warrior kembali berlayar setelah diperbaiki. Kini, Greenpeace mengoperasikan tiga kapal utama—Rainbow Warrior, Arctic Sunrise, dan Esperanza—untuk menjalankan misi perlindungan lingkungan di berbagai penjuru dunia, termasuk kawasan kutub yang rapuh.
Louis XVI Menyatakan Perang terhadap Inggris
Melompat jauh ke belakang, pada 10 Juli 1778, Raja Prancis Louis XVI secara resmi mendeklarasikan perang terhadap Kerajaan Britania Raya. Langkah ini bukanlah keputusan yang tiba-tiba, melainkan bagian dari dinamika Perang Revolusi Amerika Serikat yang berkobar sejak 1775 hingga 1783. Dukungan Prancis terhadap koloni-koloni Amerika yang memberontak menjadi pemicu utama konflik ini.
Kabinet Kerja I Mulai Bertugas di Indonesia
Di dalam negeri, tanggal 10 Juli 1959 menjadi awal bagi Kabinet Kerja I untuk menjalankan roda pemerintahan, menggantikan Kabinet Juanda. Kabinet ini dibentuk di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, yang saat itu merangkap sebagai perdana menteri. Dengan total 40 menteri, kabinet ini bertugas hingga 18 Februari 1960, sebelum akhirnya digantikan oleh Kabinet Kerja II yang berlangsung hingga Maret 1962.
Bahama Merdeka dari Britania Raya
Di kawasan Karibia, 10 Juli 1973 menjadi hari bersejarah bagi Bahama. Negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 700 pulau ini resmi memperoleh kemerdekaan dari Britania Raya. Bernama resmi Persemakmuran Bahama, negara ini kemudian tumbuh menjadi salah satu negara berkembang yang cukup stabil di kawasan tersebut.
Portugal Raih Gelar Juara EURO Pertama
Dari dunia olahraga, 10 Juli 2016 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Portugal. Di Stade de France, Saint-Denis, tim nasional Portugal berhasil mengalahkan tuan rumah Prancis dengan skor tipis 1-0 melalui babak perpanjangan waktu. Kemenangan ini mengukuhkan Portugal sebagai juara Piala Eropa UEFA untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Jelajah Shanghai: Kemudahan Transaksi Digital dan Pesona Wisata Modern di Pusat Metropolitan Tiongkok
Tiga Tersangka Penyerangan Polisi di Katingan Ditangkap di Samarinda, Satu Bandar Narkoba
KPK Tangkap Tiga Bupati dalam Dua Bulan, Pakar Soroti Lemahnya Pencegahan Korupsi
BMKG: Suhu Jakarta Tembus 34 Derajat pada Kamis, Warga Diimbau Waspada