PARADAPOS.COM - Dua gadis kembar asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menemukan secercah harapan di tengah kerasnya hidup. Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah, yang akrab disapa Imah dan Sanah, memilih menimba ilmu di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek setelah kehilangan kasih sayang sang ibu. Keputusan ini diambil di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit, di mana sang ayah, Agus Sugono, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari berjualan cimol di Alun-Alun Trenggalek.
Hidup Tanpa Ibu Sejak Kelas Empat SD
Kisah pilu bermula saat Imah dan Sanah masih duduk di bangku kelas 4 SD. Sang ibu, Karyatun, memutuskan bekerja di luar kota dan sejak itu hubungan mereka terputus. “Terakhir ketemu masih kelas 4 SD. Habis itu enggak pernah ketemu lagi,” kata Imah dengan nada lirih, Minggu (24/5/2026).
Sejak kepergian sang ibu, Imah dan Sanah hanya tinggal bersama ayah dan adik mereka. Karyatun tak pernah lagi mengirimkan uang untuk kebutuhan keluarga. Bahkan, menurut pengakuan Imah, ibunya bersikap acuh tak acuh terhadap anak-anaknya sendiri.
Pertemuan yang Tak Diinginkan
Suatu ketika, Karyatun pulang ke kampung halaman. Namun, alih-alih kembali ke rumah, ia memilih tinggal di rumah orangtuanya yang masih satu wilayah. Imah dan Sanah sempat berusaha menemuinya, tetapi usaha itu berujung penolakan.
“Ibu enggak mau ketemu kita. Terus ibuku tuh katanya ngomong ke orang-orang enggak kenal sama kita. Kita udah dibuang seperti sampah, gitu katanya orang-orang,” ujar Imah, suaranya bergetar menahan perih.
Bangkit dari Keterpurukan
Meski diterpa badai keluarga, kedua remaja ini tak mau larut dalam kesedihan. Mereka memilih bangkit dan fokus menyelesaikan pendidikan formal. Keduanya memiliki cita-cita yang sama: menjadi pengusaha.
“Kita dari dulu sudah biasa jualan kecil-kecilan, kayak jual risol gitu. Soalnya pengen bantu bapak nyari duit,” tutur Imah, menggambarkan semangat pantang menyerah yang mereka miliki.
Sekolah Rakyat: Tempat Merajut Asa
Kini, Imah dan Sanah tengah menimba ilmu di SRT 50 Trenggalek. Sejak bersekolah di sana, mereka mengaku tak lagi khawatir soal kebutuhan perlengkapan sekolah hingga makanan.
“Di sini semuanya sudah disediakan. Aku juga bisa makan enak tiap hari. Senang sekali di Sekolah Rakyat,” ucap Imah dengan wajah berseri, menandakan bahwa di tengah keterbatasan, masih ada tempat yang mampu menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang nyaris padam.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Calon Pengantin Wanita di Pati Kabur Enam Jam Sebelum Akad, Dinikahkan dengan Kekasihnya
Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Hampir Rampung, Nota Kesepahaman Mediasi Pakistan Menunggu Respons AS
Persib Juara Tiga Kali Beruntun, Gubernur Jabar: Bukti Klub Profesional Tanpa Intervensi Pemerintah
RIIZE Umumkan Comeback dengan Mini Album ‘II’ pada 15 Juni, Angkat Lagu Utama ‘Do Your Dance’