Wakil Ketua MPR Dorong Optimalisasi AI untuk Tingkatkan Kemandirian Penyandang Disabilitas

- Kamis, 16 Juli 2026 | 09:50 WIB
Wakil Ketua MPR Dorong Optimalisasi AI untuk Tingkatkan Kemandirian Penyandang Disabilitas

PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendorong optimalisasi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Hal ini dinilai sebagai langkah konkret dalam menjalankan amanat konstitusi, khususnya mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 16 Juli 2026, merespons data terbaru mengenai akses pendidikan dan kondisi ketenagakerjaan penyandang disabilitas.

AI sebagai Harapan Baru bagi Disabilitas

Menurut Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie, kecerdasan buatan kini membuka harapan baru. Teknologi ini dinilai mampu menjadi alat bantu efektif untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas. Mulai dari membantu mengenali objek di sekitar hingga menerjemahkan bahasa isyarat secara real-time.

"Pembukaan UUD 1945 memberi mandat yang sangat jelas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Pemanfaatan AI bagi disabilitas merupakan bagian pelaksanaan amanat konstitusi," ujarnya.

Fitur AI yang Dapat Disesuaikan dengan Kebutuhan Spesifik

Anggota Komisi X DPR itu menjelaskan bahwa AI menawarkan berbagai fitur yang dapat dikustomisasi. Bagi penyandang tunanetra, teknologi seperti computer vision dapat membantu mendeskripsikan gambar dan lingkungan sekitar secara verbal. Sementara itu, bagi penyandang tunarungu, fitur transkripsi ucapan ke teks (speech-to-text) dan penerjemahan bahasa isyarat membuka akses komunikasi yang jauh lebih luas.

Data Pendidikan Tinggi: Akses yang Semakin Terbuka

Rerie mengungkapkan data terbaru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) per Juni 2025. Tercatat sebanyak 3.128 mahasiswa disabilitas tengah menuntut ilmu di 282 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Baginya, angka ini menandakan semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi kelompok tersebut.

"Hal itu menandakan semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas," tutur anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.

Tantangan di Sektor Ketenagakerjaan

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan realitas yang masih timpang. Sekitar 70 persen penyandang disabilitas tercatat bekerja di sektor informal. Menghadapi kondisi ini, Rerie menilai penguasaan AI dapat menjadi akselerator untuk membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan produktivitas mereka.

Lebih lanjut, Rerie menegaskan bahwa dengan pendekatan yang tepat, AI bukan sekadar alat teknologi. "AI dapat menjadi alat keadilan sosial yang memastikan transformasi digital di Indonesia mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk penyandang disabilitas," pungkasnya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar