PARADAPOS.COM - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, mendorong agar peringatan Hari Lahir Pancasila tidak berhenti pada seremoni tahunan. Dalam pernyataannya pada Senin, 1 Juni 2026, ia menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diinternalisasi dalam setiap pengabdian aparatur sipil negara (ASN), terutama untuk menciptakan pelayanan publik yang adil dan tanpa diskriminasi. Seruan ini disampaikan di tengah peringatan yang tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”
Pancasila sebagai Nilai Hidup dalam Pelayanan Publik
Rini Widyantini secara spesifik meminta jajaran ASN, dari tingkat pusat hingga daerah, untuk merumuskan kebijakan publik yang lahir dari semangat keadilan sosial. Menurutnya, kebijakan tersebut harus mampu memenuhi rasa keadilan masyarakat, menjamin hak-hak kelompok terkecil, dan tidak membiarkan warga merasa ditinggalkan oleh negara.
“Jadikan Pancasila sebagai nilai yang hidup dalam setiap pengabdian dalam melayani negeri. Kita hadirkan kebijakan dan pelayanan publik yang adil, inklusif, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rini dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan, nilai-nilai luhur Pancasila ini berjalan beriringan dengan core values ASN BerAKHLAK—sebuah akronim yang mencakup orientasi pelayanan, akuntabilitas, kompetensi, harmoni, loyalitas, adaptabilitas, dan kolaborasi. Dengan demikian, semangat Pancasila tidak hanya menjadi slogan, melainkan panduan kerja yang konkret.
Menghadapi Turbulensi Global dengan Jangkar Moral
Lebih jauh, Rini menjelaskan bahwa Pancasila berfungsi sebagai “jangkar moral” bagi bangsa Indonesia di tengah gejolak global. Mulai dari disrupsi teknologi yang masif hingga dinamika geopolitik yang tidak menentu, nilai-nilai Pancasila dinilai relevan untuk menjaga stabilitas dan identitas bangsa.
Dalam kesempatan terpisah, Wakil Menteri PAN-RB, Purwadi Arianto, turut menegaskan hal serupa. Ia menyebut Pancasila sebagai bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di saat banyak negara menghadapi ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh dengan segala keberagamannya.
“Dengan keberagaman 17.000 lebih pulau dan bermacam-macam adat, suku bangsa, bahasa, dan agama, Indonesia bisa hidup berdampingan dalam satu ikatan kebangsaan,” jelas Purwadi.
Sejarah Perumusan dan Living Ideology
Rini mengingatkan kembali sejarah lahirnya Pancasila. Nilai-nilai luhur ini, menurutnya, merupakan rangkuman dari adat dan budaya bangsa yang dirumuskan oleh Presiden Pertama RI, Soekarno, saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Ende, Nusa Tenggara Timur. Konsep tersebut kemudian dibacakan pertama kali dalam pidato monumental pada Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.
Sejak saat itu, istilah Pancasila diperkenalkan dan menjadi dasar negara sekaligus pedoman hidup bangsa. Rini menekankan bahwa segala bentuk kebijakan dan proses pemerintahan harus dipagari oleh nilai-nilai Pancasila agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya. Nilai musyawarah dan mufakat, misalnya, tercermin dari keharusan pemerintah untuk menyertakan seluruh lapisan masyarakat saat merumuskan kebijakan.
Sebagai contoh konkret, Rini menyebut implementasi Pancasila dalam penyusunan standar pelayanan. Instansi pemerintah, katanya, harus melibatkan berbagai elemen masyarakat—mulai dari akademisi, lembaga swadaya masyarakat, hingga kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
“Kita harus membuktikan bahwa semua yang kita abdikan adalah untuk masyarakat, pelayanan yang kita ciptakan bersifat inklusif tanpa membedakan apa pun,” tegas Rini.
Melawan Intoleransi di Era Digital
Purwadi Arianto juga menyoroti tantangan era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi dapat menjerumuskan masyarakat ke arah yang negatif jika tidak diimbangi dengan pegangan ideologi yang kuat. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology).
“Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita,” tegas Purwadi.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum refleksi bagi seluruh ASN dan masyarakat untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kakorlantas Tinjau Pos Gadog, Hampir 40 Ribu Kendaraan Melintas di Puncak Selama 24 Jam
Macron Desak AS dan Iran Segera Capai Kesepakatan untuk Akhiri Konflik
Pemerintah Resmi Beri Insentif PPN 100 Persen untuk Mobil Listrik Mulai Juni 2026
Mendagri Tito Karnavian Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo Tegaskan Pancasila Fondasi Pemersatu Bangsa