Riset: 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI, Meski Sadar Risiko Privasi

- Kamis, 16 Juli 2026 | 14:50 WIB
Riset: 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI, Meski Sadar Risiko Privasi
PARADAPOS.COM - Sebuah riset terbaru mengungkap bahwa hampir enam dari sepuluh generasi Z di Indonesia pernah menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat bercerita tentang masalah pribadi. Temuan ini dipaparkan dalam webinar bertajuk "Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI" yang digelar oleh Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI). Topik yang paling sering diangkat dalam sesi curhat digital ini meliputi pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga.

Fenomena Curhat ke AI: Antara Kenyamanan dan Risiko

Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, menjelaskan bahwa risetnya mencatat sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah curhat kepada AI. "Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah curhat kepada AI," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 Juli 2026. Menurut Farabi, hubungan manusia dengan AI saat ini bersifat paradoksal. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemudahan. Namun di sisi lain, AI memunculkan tantangan baru yang perlu diantisipasi. Temuan ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, atau berbagi persoalan pribadi. "Penelitian juga menemukan bahwa banyak responden menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan, karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi," ungkap Farabi.

Paradoks di Balik Layar: Sadar Risiko, Tetap Curhat

Peneliti DiRI, Haris Fatwa, menyoroti adanya paradoks krusial di balik fenomena ini. Ia mengatakan Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi tetap memilih chatbot sebagai tempat bercerita. "Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan," jelas Direktur Digital Media Research and Consulting itu. Riset DiRI juga menemukan paradoks lain dalam aspek perlindungan data pribadi. Sebanyak 88,7 persen responden percaya AI mungkin menyimpan data percakapan mereka. Kemudian, 90,9 persen responden menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1 persen khawatir data tersebut dapat disalahgunakan. Meski demikian, 63,2 persen responden mengaku tetap membagikan cerita pribadi mereka kepada AI," ujar Haris. Haris menambahkan, banyak kaum muda yang curhat ke AI bukan karena tidak memiliki teman yang bisa dipercaya di dunia nyata. Mereka justru memposisikan AI sebagai alternatif pendengar yang bebas penghakiman. "Tapi di saat yang sama, 70,2 persen responden justru mengeluhkan bahwa AI sering gagal menangkap kedalaman emosi manusia," ungkap Haris.

Potensi Bahaya: AI Bukan Pengganti Manusia

Psikolog sosial Syurawasti Muhiddin menjelaskan bahwa kenyamanan bercerita ke AI umumnya lahir dari rasa takut dihakimi. Ia juga mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran profesional kesehatan mental. "Fenomena ini memunculkan berbagai kekhawatiran terkait privasi, apakah AI akan menggantikan peran manusia atau AI justru dapat memperparah krisis? Pendekatan yang paling ideal adalah membangun kerja sama antara konselor manusia dengan AI," ujar Syura, sapaannya. "AI dapat menjadi alat bantu, tapi jika seseorang membutuhkan diagnosis medis atau psikologis yang akurat, AI tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya," tambah konselor Helpine.id itu. Pandangan serupa disampaikan peneliti dari Center for Studies on Inclusive Education (CSIE) Sekolah Tumbuh, Ria Putri Palupijati. Ia mengingatkan bahwa kehadiran AI berpotensi membuat seseorang kehilangan jati dirinya jika tidak disadari batasnya. "Kita harus senantiasa menyadari bahwa AI hanyalah entitas atau alat yang berada di luar diri kita. Media seharusnya hanya diposisikan sebatas sistem pendukung, bukan pengganti otentisitas kita sebagai individu yang utuh," papar Ria.

Empat Kompetensi yang Perlu Diperkuat pada Gen Z

Mengacu pada kerangka literasi digital UNESCO dan DigComp 2.2 Komisi Eropa, DiRI menilai sedikitnya terdapat empat kompetensi yang perlu diperkuat pada generasi muda. Yakni kemampuan berpikir kritis terhadap keluaran AI, literasi informasi dan data, kesadaran terhadap privasi dan keamanan digital, serta penggunaan AI secara etis. Meski demikian, riset DiRI juga menunjukkan sinyal positif. Hampir 90 persen responden telah memiliki tingkat kesadaran sedang hingga tinggi terhadap keterbatasan AI. Namun, pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi perilaku digital yang bertanggung jawab. Termasuk, memahami kapan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, dan kapan perlu mencari dukungan dari keluarga, teman, konselor, maupun tenaga kesehatan mental. Salah satu peserta webinar, Lutfiah Septiyani, mengaku menyadari batas tipis antara kebutuhan bercerita dan ketergantungan pada validasi mesin. "Ketika curhat dengan AI ternyata saya sadar bahwa saya hanya sekadar mencari validasi dan afirmasi psikologis dari AI, padahal AI hanya memainkan pola bahasa,” ujar Lutfiah.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar