Pak Haji, Dermawan Misterius yang Rutin Bagikan Uang ke Tuna Wisma di Trotoar Panglima Polim

- Selasa, 02 Juni 2026 | 00:00 WIB
Pak Haji, Dermawan Misterius yang Rutin Bagikan Uang ke Tuna Wisma di Trotoar Panglima Polim

PARADAPOS.COM - Di Jakarta Selatan, tepatnya di trotoar Jalan Panglima Polim, puluhan tuna wisma dan warga biasa rutin menanti seorang dermawan misterius yang dikenal sebagai "Pak Haji" setiap tengah malam. Sosok ini kerap membagikan uang tunai, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, kepada mereka yang membutuhkan. Berdasarkan penelusuran di lapangan pada Kamis dan Jumat, 28-29 Mei 2026, kedatangan Pak Haji tidak pernah bisa dipastikan, namun kehadirannya sangat diharapkan oleh para penghuni jalanan yang menggantungkan harapan pada uluran tangannya.

Menanti di Bawah Tiang MRT

Malam itu, suasana di trotoar Panglima Polim perlahan berubah. Laju kendaraan yang awalnya ramai mulai berkurang, digantikan oleh deretan orang-orang yang duduk bersila di atas banner bekas dan tikar sederhana. Mereka berselimut debu jalanan, melawan dinginnya angin malam yang menusuk. Di bawah tiang beton Mass Rapid Transit (MRT), seorang pria paruh baya bernama Tian sudah setia menunggu sejak jam 10 malam. Sudah dua tahun terakhir, ia menjalani rutinitas yang sama.

"Ada yang bagi-bagi rejeki (Pak Haji). Enggak bisa dipastiin (datangnya). Namanya kita mengharap saja," ujar Tian saat berbincang di sela-sela penantiannya.

Menurut Tian, Pak Haji biasanya datang satu hingga dua kali dalam sepekan, terutama pada hari Senin dan Kamis. Namun, jadwalnya tidak pernah tetap. Jika tidak kunjung datang, mereka akan pulang dan kembali lagi keesokan harinya. Hingga pukul dua dini hari, Pak Haji tak kunjung muncul.

Kisah Kedermawanan yang Melegenda

Pak Haji bukan sekadar nama, melainkan legenda di kalangan warga sekitar. Bukan hanya pemulung, sopir bajaj hingga warga biasa kerap ikut menunggu hingga larut malam. Sosok ini dikenal dengan kedermawanannya yang tak biasa. Saat membagikan uang, Pak Haji tidak suka jika ada warga yang berkerumun. Mereka diminta duduk rapi berjejer, tidak berdiri atau mengerumuni mobil yang ditumpanginya.

"Iya, sudah enggak asing lah ibarat kata cerita," ungkap Wahyu, warga lain yang juga setia menunggu.

Dari pengalaman Wahyu, pembagian uang terkadang tidak selalu dilakukan langsung oleh Pak Haji. Ada seorang kepercayaan bernama Bogel yang kerap membagikan uang menggunakan sepeda motor. Informasi kedatangan Pak Haji, lanjut Wahyu, disebarkan melalui grup WhatsApp khusus. Grup itu digunakan untuk berkoordinasi dan memberi tahu jika Pak Haji hendak datang ke salah satu lokasi, seperti Mampang, Manggarai, Pasar Rumput, atau Senen.

"Iya ada grupnya tuh WA. Nanti dikasih tahu sama ajudannya (kalau ingin datang)," jelas Wahyu.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Bagi Tian, yang sudah tidak bisa bekerja karena penyakit stroke, uang Rp 50 ribu pemberian Pak Haji sangat berarti. Ia hanya tinggal di sebuah masjid dan hanya bisa makan jika ada orang dermawan yang memberikan makanan. Uang itu cukup untuk mengisi perutnya yang lapar. Sementara itu, untuk warga lanjut usia, nominal yang diberikan biasanya lebih besar, mencapai Rp 100 ribu.

Namun, di balik cerita kedermawanan ini, ada aturan tak tertulis. Ajudan Pak Haji sering menegur warga yang berpindah-pindah tempat hanya untuk mendapatkan sumbangan dua kali. Tak jarang, orang-orang seperti itu justru dilewati dan tidak diberi uang saat Pak Haji datang. Sistem ini, meski sederhana, menunjukkan bahwa Pak Haji dan timnya memiliki cara tersendiri untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Malam semakin larut, namun harapan tetap menyala di hati mereka yang menanti. Di trotoar Jalan Panglima Polim, di bawah gemerlap lampu kota Jakarta, kisah tentang seorang dermawan misterius terus hidup, menjadi pengingat bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja, kapan saja, meski dalam ketidakpastian.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler