Prabowo Bawa Pulang Rp62 Triliun dari Prancis, Termasuk Kerja Sama Energi dan Pertahanan

- Selasa, 02 Juni 2026 | 02:25 WIB
Prabowo Bawa Pulang Rp62 Triliun dari Prancis, Termasuk Kerja Sama Energi dan Pertahanan
PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto baru saja menyelesaikan lawatan kenegaraan ke Prancis selama beberapa hari terakhir. Dari kunjungan keempatnya tersebut, Indonesia membawa pulang empat kesepakatan bisnis dan investasi strategis dengan nilai total mencapai USD3,5 miliar, atau setara dengan sekitar Rp62 triliun berdasarkan kurs Rp17.800 per dolar Amerika Serikat. Kesepakatan ini mencakup sektor energi, perdagangan, dan pertahanan, yang selama ini menjadi pilar utama hubungan ekonomi kedua negara. Selain itu, Presiden Prabowo juga mengejutkan publik dengan wacana pembelajaran bahasa Prancis di sekolah-sekolah Indonesia.

Empat Kesepakatan Komersial yang Diraih

Dalam pertemuan bisnis yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, kamar dagang, dan pelaku industri dari Indonesia maupun Prancis, terungkap bahwa lawatan ini menghasilkan empat kesepakatan komersial. Pemerintah Indonesia menilai bahwa kesepakatan ini tidak hanya akan meningkatkan investasi, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri ke depannya.

Pembentukan France-Indonesia High Level Business Council

Kesepakatan pertama yang paling menonjol adalah pembentukan France-Indonesia High Level Business Council. Dewan bisnis tingkat tinggi ini akan diisi oleh sekitar 30 pemimpin bisnis dan pelaku industri utama dari kedua negara. Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk mempercepat realisasi investasi, memperkuat kerjasama industri, dan membuka akses pasar baru. Salah satu target yang terukur dari dewan ini adalah peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada tahun 2035. Sebagai gambaran, pada tahun 2024, nilai perdagangan Indonesia dan Prancis tercatat sekitar USD2,4 miliar atau setara dengan Rp42 triliun lebih. Namun, Indonesia masih mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD532 juta atau sekitar Rp9 triliun. Karena itu, pembentukan dewan bisnis ini juga dipandang sebagai upaya untuk menyeimbangkan hubungan dagang dan meningkatkan ekspor nasional.

Rencana Kerja Sama Dagang di Sektor Energi dan Pertahanan

Tiga perjanjian lainnya memiliki nilai yang lebih konkret. Pertama, kerjasama antara Pertamina dengan SLB (PT Schlumberger Geophysics Nusantara) yang berfokus pada pemanfaatan teknologi energi dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas operasi migas. Nilai kerjasama ini berkisar antara USD250 juta hingga USD500 juta, atau setara dengan Rp4,5 triliun sampai Rp8,9 triliun. Kedua, Pertamina juga menjajaki kerjasama dengan Total Energies senilai USD900 juta hingga USD2,5 miliar (Rp16 triliun hingga Rp44,5 triliun). Cakupannya meliputi pengembangan LNG, biofuel, energi terbarukan, serta bisnis rendah karbon. Langkah ini dinilai sejalan dengan target Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Ketiga, di bidang pertahanan, terdapat rencana kerjasama antara PT LEN dengan perusahaan pertahanan Prancis, TALS. Nilai potensialnya berkisar antara USD349 juta sampai USD465 juta, atau setara dengan Rp6,2 triliun hingga Rp8,3 triliun. Fokus utamanya adalah pengembangan industri pertahanan nasional, termasuk produksi dan pengembangan sistem radar yang ditargetkan memiliki kandungan lokal tinggi dan diproduksi di dalam negeri. Pemerintah menilai skema ini penting karena tidak hanya berorientasi pada pembelian alat utama, tetapi juga memperkuat kemandirian industri strategis melalui transfer pengetahuan.

Pernyataan Presiden Prabowo Soal Bahasa Asing

Selain kerjasama ekonomi, Presiden Prabowo Subianto juga membawa oleh-oleh di bidang pendidikan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Prancis. "Saya sudah menginstruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," ujarnya. Menurut Presiden, perkembangan global ke depan akan menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan komunikasi yang lebih luas, tidak hanya terpaku pada satu bahasa asing yang dominan.

Tanggapan Komisi X DPR

Wacana ini pun menjadi topik hangat karena menyentuh isu pendidikan dan kesiapan sumber daya manusia secara nasional. Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irvani, yang membawahi bidang pendidikan, memberikan tanggapannya. Ia mengingatkan agar wacana tersebut dikaji secara matang dan tidak hanya menjadi simbol diplomasi antara kedua negara. Komisi X, lanjutnya, akan menanyakan lebih detail kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengenai mekanisme pembelajaran bahasa asing ini. Pasalnya, bukan hanya bahasa Prancis yang disinggung. Saat bertemu dengan Presiden Brasil, Presiden Prabowo juga sempat menyampaikan pentingnya pembelajaran bahasa Portugis. Dengan demikian, kebijakan yang diambil diharapkan memiliki dasar perencanaan yang kuat dan benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik di Indonesia.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar