Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

- Kamis, 04 Juni 2026 | 02:50 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data dari Investing, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.015 per dolar AS pada pukul 06.45 WIB, melemah sekitar 90 poin dari penutupan sebelumnya di Rp 17.925. Sementara itu, data Google Finance menunjukkan rupiah bahkan sempat menembus Rp 18.022 per dolar AS pada malam sebelumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, nilai tukar rupiah perlahan kembali ke kisaran Rp 17.900 per dolar AS.

Rupiah Tembus Level Terendah Sepanjang Sejarah

Pelemahan ini menjadi titik terendah yang pernah dialami rupiah. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 127,5 poin atau 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Tekanan dari Konflik Global

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, sebelumnya telah memperkirakan bahwa rupiah bakal menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada pekan ini. Menurutnya, pergerakan rupiah sangat bergantung pada dinamika geopolitik global. "Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston kepada Kompas.com, Rabu. Ia menjelaskan, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari konflik yang belum mereda antara AS dan Iran di Timur Tengah. Situasi ini mendorong investor global untuk terus memburu dolar AS sebagai aset aman ("safe haven"), sehingga nilai tukar dolar AS meningkat. "Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," ungkapnya.

Dampak Kenaikan Harga Minyak

Selain memperkuat dolar AS, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Ariston menilai kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia masih bergantung pada impor energi yang dibayar menggunakan dolar AS. Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dolar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dolar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dolar AS per barel. "Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia," ucapnya.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Ariston menyebut, rupiah bisa saja menguat asalkan konflik di Timur Tengah segera berakhir. Setelah itu, pemerintah dapat mulai membenahi sentimen negatif terkait kebijakan ekonomi untuk mendorong penguatan rupiah. "Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS," sebut dia.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags

Terpopuler