Menkop: Koperasi Jadi Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Pancasila, Tantangan Impor Masih Berat

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 06:25 WIB
Menkop: Koperasi Jadi Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Pancasila, Tantangan Impor Masih Berat
PARADAPOS.COM - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan bahwa koperasi menjadi ujung tombak transformasi menuju Ekonomi Pancasila, sistem gotong royong yang dinilai paling sesuai dengan jiwa UUD 1945, khususnya Pasal 33. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Peluncuran Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia dan Malam Budaya memperingati Hari Lahir Bung Karno di Pitaloka Sanur, Bali, Jumat (5/6) malam. Di tengah semangat tersebut, Ferry mengakui tantangan di lapangan masih berat, terutama gempuran produk impor seperti kain dan pakaian bekas. Sebagai langkah konkret, ia mendorong kolaborasi dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk membangun ekosistem produksi mandiri.

Koperasi sebagai Ujung Tombak Transformasi

Ferry Juliantono menyampaikan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto sangat jelas: transformasi ekonomi harus kembali ke akar Ekonomi Pancasila. "Bapak Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan keinginan kuat untuk melakukan transformasi ekonomi kembali ke Ekonomi Pancasila. Kami di Kementerian Koperasi mendapatkan amanah besar karena koperasi adalah ujung tombak dari transformasi ini," ujar Ferry dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026). Menurutnya, model ekonomi gotong royong inilah yang paling mencerminkan kepribadian bangsa. Bukan sekadar wadah usaha, koperasi disebut sebagai institusi strategis yang bisa menggerakkan roda perekonomian dari tingkat akar rumput.

Hambatan di Lapangan: Banjir Produk Impor

Meski optimistis, Ferry tidak menutup mata terhadap realitas yang terjadi. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah maraknya produk impor yang membanjiri pasar domestik. Salah satu solusi yang ia dorong adalah menginisiasi pembukaan lahan perkebunan kapas sendiri, pembangunan pabrik tekstil, hingga pabrik garmen yang dikelola oleh koperasi. "Saya mendorong Koperasi Laskar Juang untuk menginisiasi pembukaan lahan perkebunan kapas sendiri, pabrik tekstil, hingga garmen. Kita harus mampu memproduksi bahan baku secara mandiri melalui badan usaha koperasi," jelasnya. Langkah ini dinilai penting untuk memutus ketergantungan pada rantai pasok luar negeri, sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.

Koperasi sebagai Alat Perjuangan Ideologis

Senada dengan Ferry, Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, menegaskan bahwa koperasi memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar urusan bisnis. "Koperasi ini lahir bukan untuk memperkaya segelintir orang, melainkan untuk memperkuat rakyat. Ini adalah alat perjuangan ideologis untuk membangun kedaulatan ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan bersama," kata Rieke. Memanfaatkan momentum Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni, Rieke mengingatkan kembali amanat Sang Proklamator pada tahun 1965 bahwa koperasi adalah sekolah gotong royong dan solidaritas. Menurutnya, koperasi harus hadir untuk mengorganisir petani, nelayan, UMKM, hingga generasi muda agar memiliki daya tawar tinggi di tengah dominasi modal besar. "Target utama kita ke depan adalah memutus ketergantungan terhadap luar negeri. Kita harus mampu memproduksi, mengolah, dan menguasai rantai nilai ekonomi sendiri. Inilah esensi sejati dari semangat 'Berdikari', berdiri di atas kaki sendiri," tegasnya.

Komitmen Wastra Bali Menembus Pasar Global

Di sisi lain, geliat ekonomi kreatif juga terasa dalam acara yang sama. Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) APPMI Provinsi Bali terpilih, Kadek Wira Dika, menyatakan komitmennya untuk membawa wastra tradisional khas Pulau Dewata menembus pasar mode internasional. "Bali memikul tanggung jawab besar untuk mengangkat kearifan lokal, khususnya melestarikan dan mengembangkan wastra seperti endek, tenun, dan songket agar semakin mendunia," ungkap Kadek Wira dalam sambutan perdana usai dilantik. Kadek Wira juga menyampaikan apresiasi kepada Rieke Diah Pitaloka atas fasilitas dan dukungan penuh terhadap pelantikan pengurus baru ini. Ia mengajak seluruh perancang di Bali menjadikan asosiasi ini sebagai wadah produktif yang mampu bersaing di kancah global tanpa meninggalkan akar budaya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar