Menteri Keuangan Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 11:50 WIB
Menteri Keuangan Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi
PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen negatif yang tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap solid dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pernyataan ini disampaikan Purbaya di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026, merespons kekhawatiran pasar yang dinilai berlebihan.

Persepsi vs Realitas Fundamental

Purbaya menegaskan bahwa persepsi negatif yang berkembang di pasar tidak sejalan dengan data riil di lapangan. Ia menyebut APBN masih dalam kondisi sehat dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. “Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujarnya. Ia menambahkan, kondisi ini justru kontras dengan kenyataan yang ia saksikan langsung saat berkunjung ke berbagai wilayah. Aktivitas ekonomi, menurutnya, tetap bergerak dinamis.

Koordinasi Pemerintah dan Bank Sentral

Untuk meredam gejolak pasar, pemerintah dan Bank Indonesia sepakat mempererat koordinasi. Langkah ini diambil untuk mengoreksi persepsi keliru yang dinilai menjadi pemic utama ketidakstabilan. “Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” jelasnya. Upaya ini diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional dalam jangka pendek.

Realisasi Belanja Negara Tumbuh Signifikan

Dalam kesempatan terpisah, Purbaya melaporkan realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun. Angka tersebut setara dengan 35,5 persen dari target APBN 2026 yang sebesar Rp3.842,7 triliun. “Belanja negara tetap tumbuh 34,4 persen. Bagus, artinya sesuai dengan target ya, kita selalu ingin mempercepat belanja mencapai Rp1.365,4 triliun,” tuturnya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026. Secara rinci, belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari pagu APBN. Realisasi ini tumbuh 52,6 persen secara tahunan, menandakan percepatan penyerapan anggaran yang cukup agresif. Dari data ini, Purbaya optimistis bahwa fundamental fiskal tetap kokoh di tengah tekanan pasar. Ia berharap sinyal positif dari realisasi belanja negara dapat meredam kekhawatiran yang selama ini membayangi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar