Lonjakan Minat pada Terapi Infertilitas
Wamenkes Dante Saksono mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pengguna IVF mencerminkan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi terhadap solusi medis untuk masalah kesuburan. Terapi ini menjadi salah satu pilihan utama bagi pasangan yang mengalami infertilitas, dengan tingkat keberhasilan yang terus membaik seiring kemajuan teknologi reproduksi. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, Sp.OG, menekankan bahwa persiapan yang matang menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Tahapan Program IVF yang Perlu Diketahui
Sebelum memulai, dokter akan menjelaskan secara rinci mulai dari persiapan hingga langkah-langkah yang harus dijalani. Pasien juga disarankan menerapkan pola hidup sehat agar kualitas sperma dan sel telur optimal. Berikut tahapan yang umum dilakukan:
1. Evaluasi, Konseling, dan Edukasi
Pasangan menjalani evaluasi menyeluruh bersama dokter untuk memahami kondisi, harapan, serta kesiapan fisik dan mental. Proses ini mencakup pemeriksaan kondisi fisik dan hormonal, seperti skrining pra-kehamilan, tes cadangan sel telur (ovarian reserve), dan analisa sperma. Selain itu, sesi konseling dengan klinisi dan edukasi lengkap tentang proses IVF juga diberikan agar pasangan benar-benar siap.
2. Stimulasi: Merangsang Folikel agar Berkembang Bersama
Pada siklus haid normal, hanya satu sel telur yang berkembang. Dalam IVF, suntikan stimulasi diberikan agar 10 hingga 15 folikel bisa berkembang sekaligus. Durasi suntikan berkisar antara 8 hingga 12 hari. “Suntikan bisa dilakukan secara mandiri oleh pasien di rumah,” ujar dr Ivan kepada tim redaksi.
3. Pemantauan dan Pengambilan Sel Telur
Selama masa stimulasi, dokter memantau perkembangan folikel secara berkala. Ketika folikel sudah siap, pasien menjalani tindakan Ovum Pick Up (OPU) atau pengambilan sel telur dengan sedasi atau anestesi ringan. Prosedur ini biasanya berlangsung selama 15 hingga 30 menit.
4. Fertilisasi: Proses Pembuahan di Laboratorium Embriologi
Sel telur yang berhasil diambil kemudian dibuahi dengan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk dipantau selama kurang lebih lima hari hingga mencapai stadium blastokista, yaitu tahap terbaik untuk mengevaluasi kualitasnya. Dokter akan menentukan embrio mana yang paling layak untuk ditransfer ke rahim.
5. Transfer Embrio
Terdapat dua opsi berdasarkan kondisi pasien. Fresh transfer dilakukan dengan menanam embrio langsung pada siklus yang sama atau dua bulan kemudian, dengan pemantauan selaput rahim. Tes kehamilan biasanya dilakukan sekitar dua minggu setelahnya. Sementara itu, frozen transfer memungkinkan embrio dibekukan dan ditransfer kapan pun pasien dan dokter siap, tanpa harus mengulang proses dari awal. Embrio beku dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat panjang.
“Pada tahap ini, dokter juga dapat mendiskusikan opsi untuk melakukan evaluasi kromosom melalui pemeriksaan yang disebut Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A),” jelas dokter yang praktik di RS Bunda Menteng, Jakarta Pusat, tersebut.
Apa Itu PGT-A?
Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) adalah pemeriksaan opsional untuk menilai kondisi kromosom embrio sebelum ditransfer. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil biopsi saat embrio mencapai stadium blastokista, kemudian sampel dikirim ke laboratorium genomik untuk dianalisis.
Artikel Terkait
Ketua Komisi XI DPR Sebut Kenaikan Harga Pertamax Langkah Tak Populer demi Stabilitas Ekonomi Nasional
Pria 44 Tahun Berbagi Kisah Kendalikan Diabetes, Teknologi Laser Disebut Bantu Jaga Kualitas Darah
Jakarta Garden City Tawarkan Hunian dan Ruko Siap Pakai untuk Jawab Risiko Properti Indent
KPK Tahan Staf Ahli Anggota DPR Terkait Suap Audit BPK di Muara Enim