Rupiah Tembus Level Psikologis, BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen

- Jumat, 12 Juni 2026 | 07:50 WIB
Rupiah Tembus Level Psikologis, BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan signifikan, kini berada di bawah level psikologis Rp18.000 per USD. Kondisi ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,5 persen. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa langkah tersebut mendapat respons positif dari investor asing, yang tercermin dari meningkatnya aliran modal masuk ke instrumen keuangan domestik.

Respons Pasar terhadap Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa, 9 Juni 2026, menjadi katalis utama penguatan rupiah. Keputusan ini diambil setelah bank sentral menilai pelemahan rupiah telah melampaui proyeksi awal. Tak hanya suku bunga acuan, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing 25 bps menjadi 4,50 persen dan 6,25 persen. Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa respons positif investor asing tidak terlepas dari bauran kebijakan yang ditempuh BI. Selain kenaikan suku bunga, penguatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) turut menarik minat pasar. “Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.

Strategi Stabilisasi Nilai Tukar

Untuk menjaga momentum penguatan rupiah, BI tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga. Bank sentral mengumumkan serangkaian langkah stabilisasi yang lebih terukur. Di antaranya adalah kenaikan struktur suku bunga SRBI untuk seluruh tenor, pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing, serta pembukaan kembali window lelang instrumen repo bagi perbankan. Ramdan menambahkan bahwa bank sentral akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik. “Kami akan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing,” ujarnya. Selain itu, BI juga mengoptimalkan intervensi di pasar valas melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga.

Langkah Lanjutan dan Proyeksi ke Depan

Keputusan menaikkan BI-Rate pada RDG Mingguan 9 Juni 2026 ini merupakan yang kedua kalinya dalam waktu berdekatan. Sebelumnya, pada RDG Bulanan 19-20 Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelemahan rupiah yang melampaui proyeksi menjadi alasan utama percepatan pengetatan moneter ini. Dengan kombinasi kebijakan suku bunga, penguatan instrumen keuangan, dan intervensi pasar yang konsisten, BI optimistis aliran modal asing akan terus mengalir masuk. Hal ini diharapkan dapat menjaga rupiah tetap stabil di tengah ketidakpastian pasar global.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar