PARADAPOS.COM - Luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau pada periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 15.318 hektare. Angka ini merupakan rekapitulasi sementara dari hasil analisis citra satelit yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup. Dari total tersebut, sebagian besar—yakni 14.163,6 hektare—terjadi di lahan gambut, sementara sisanya seluas 1.155,4 hektare berada di tanah mineral.
Dominasi Kebakaran di Lahan Gambut
Fenomena ini kembali menegaskan kerentanan ekosistem gambut di Riau terhadap api. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Sumatra, Ferdian Krisnanto, menyampaikan data tersebut di Pekanbaru pada Rabu, 17 Juni 2026.
"Dari jumlah luas Karhutla Riau 15.318 ha, seluas 14.163,6 ha terjadi di lahan gambut dan sisanya seluas 1.155,4 ha di tanah mineral," jelasnya.
Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya
Untuk memberikan konteks, Ferdian membandingkan angka tersebut dengan tahun-tahun sebelumnya yang juga mengalami fenomena El Nino. Pada periode yang sama di tahun 2019, yang merupakan puncak kekeringan akibat El Nino, luas Karhutla Riau tercatat mencapai 27.782,8 hektare. Sementara itu, pada kondisi El Nino tahun 2023, luas kebakaran justru turun drastis menjadi hanya 1.860,5 hektare.
"Lonjakan luas Karhutla tahun ini memang signifikan dibandingkan 2023, namun masih di bawah angka tahun 2019 yang merupakan puncak kebakaran saat El Nino," tuturnya.
Upaya Pencegahan dan Patroli di Lapangan
Di tengah kenaikan angka tersebut, Ferdian menekankan bahwa berbagai langkah pencegahan yang telah dijalankan selama ini terbukti efektif. Menurutnya, upaya-upaya tersebut berhasil menekan luas kebakaran, bahkan ketika ancaman El Nino sedang mengintai.
"Upaya-upaya pencegahan Karhutla terus dilaksanakan melalui patroli-patroli baik dari darat maupun udara," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa patroli intensif dilakukan untuk mempercepat respons apabila terdeteksi adanya kebakaran atau titik panas. Tidak hanya dari udara, patroli darat juga digencarkan dengan mengedepankan sosialisasi dan deteksi kondisi lapangan di desa-desa yang rawan Karhutla.
"Patroli darat juga digencarkan dengan mengedepankan sosialisasi dan deteksi kondisi lapangan di desa-desa rawan Karhutla," ujarnya menambahkan.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ketua BEM UGM Dituding Ditunggangi Politik, Pelacak Ditemukan di Mobil Mewah yang Digunakannya
Kritik MBG Watch: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Jadi Skandal Korupsi Terbesar
PINTU Kembali Raih Penghargaan Kepatuhan Regulasi, Satu-Satunya Platform Kripto dengan Predikat Gold Dua Tahun Beruntun
Petani dan Mahasiswa Tolak Pembangunan Batalyon TP di Jember, Nilai Ekonomi Lahan Capai Rp11,83 Miliar per Tahun