Muktamar ke-35 NU Dinilai Jadi Ujian Sejarah untuk Perkuat Soliditas Internal dan Dukung Pemerintahan Prabowo

- Kamis, 18 Juni 2026 | 13:50 WIB
Muktamar ke-35 NU Dinilai Jadi Ujian Sejarah untuk Perkuat Soliditas Internal dan Dukung Pemerintahan Prabowo
PARADAPOS.COM - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Jakarta dinilai menjadi momentum krusial untuk memperkuat soliditas internal organisasi sekaligus menjaga dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, secara terbuka mendorong agar forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu melahirkan kepemimpinan yang selaras dengan semangat keberlanjutan nasional. Ia menekankan bahwa pemilihan ketua umum dan Rais Aam di muktamar kali ini tidak hanya soal suksesi, melainkan ujian sejarah bagi masa depan NU dan bangsa.

Muktamar di Tengah Gejolak Global

Menurut Gus Lilur, muktamar ke-35 ini tidak dapat dipisahkan dari konteks kebangsaan yang lebih luas. Di tengah kondisi geopolitik global yang bergolak dan kerentanan kohesi sosial di dalam negeri, NU sebagai organisasi dengan lebih dari seratus juta warga memikul tanggung jawab moral yang besar. Ia menilai pemerintahan Prabowo-Gibran merupakan kekuatan penyatu dari dua arus besar politik nasional. Oleh karena itu, para peserta muktamar harus menjadikan forum tersebut sebagai wadah yang terhormat untuk mendukung hal tersebut. "Pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu, demi persatuan bangsa," kata Gus Lilur dalam keterangan tertulis, Kamis, 18 Juni 2026.

Piagam Jakarta sebagai Cermin Kenegarawanan

Gus Lilur menganalogikan semangat yang harus dibawa ke Muktamar ke-35 dengan peristiwa bersejarah Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Saat itu, para pemimpin Islam merelakan tujuh kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" demi mencegah disintegrasi bangsa yang baru merdeka. Baginya, keputusan itu merupakan puncak kenegarawanan. "Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam: memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar," ujar Lilur. Ia menambahkan bahwa NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan: apa artinya bagi keutuhan bangsa?

Dukungan untuk Nasaruddin Umar dan Said Aqil Siradj

Atas dasar pertimbangan tersebut, Gus Lilur menyatakan dukungannya kepada Nasaruddin Umar untuk menjadi Ketua Umum PBNU. Ia juga mendorong Said Aqil Siradj untuk mengisi posisi Rais Aam. Menurutnya, keduanya memiliki kapasitas keilmuan dan keulamaan yang mumpuni. "Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik," ungkap Lilur.

Ujian Sejarah, Bukan Sekadar Suksesi

Gus Lilur menegaskan bahwa Muktamar kali ini adalah ujian sejarah, bukan sekadar suksesi rutin. Ia berharap para kiai dan ulama peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memilih berdasarkan kapasitas keulamaan, bukan kalkulasi kekuasaan. "Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan, itu yang sedang dipertaruhkan," pungkas Lilur.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar