Kapten Manix Gendong Empat Prajurit Terluka di Tengah Gempuran, Lima Hari Tanpa Makan saat Operasi Flamboyan

- Rabu, 24 Juni 2026 | 21:00 WIB
Kapten Manix Gendong Empat Prajurit Terluka di Tengah Gempuran, Lima Hari Tanpa Makan saat Operasi Flamboyan
PARADAPOS.COM - Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, yang kala itu masih menjabat sebagai Kapten Infanteri dan Wakil Komandan Tim Umi, menjalani salah satu misi paling berat dalam kariernya saat Operasi Flamboyan di Timor Timur pada 1975. Dalam penyusupan jauh ke pedalaman, ia bertaruh nyawa membopong empat prajuritnya yang tertembak di tengah gempuran musuh, tanpa makan dan minum selama lima hari. Peristiwa heroik ini terjadi di wilayah Suai dan Viquque, saat Sutiyoso memimpin evakuasi di bawah tekanan pasukan Fretilin yang terus memburu mereka.

Operasi Flamboyan dan Tiga Tim Penyusup

Operasi Flamboyan merupakan misi intelijen tempur terbatas yang melibatkan tiga tim utama. Tim Susi dipimpin Mayor Infanteri Yunus Yosfiah dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sunarto. Tim Tuti berada di bawah komando Mayor Infanteri Tarub, dibantu Kapten Infanteri Agus Salim Lubis. Sementara Tim Umi, tempat Sutiyoso bernaung, dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi. Setiap tim beranggotakan 100 personel. Untuk menyamarkan identitas, seluruh anggota berambut gondrong, mengenakan pakaian sipil—kemeja dan celana jeans—dilengkapi topi serta selendang khas Timor Portugis. Mereka kemudian dikenal legendaris sebagai The Blue Jeans Soldiers. Semua personel juga menggunakan nama samaran. Sutiyoso, yang menjabat sebagai Kasi Intel Satgas, memilih nama Manix—terinspirasi dari film mata-mata. Sejak itu, ia akrab disapa Kapten Manix.

Kronologi Penyusupan ke Suai dan Viquque

Pada 27 Agustus 1975, Tim Umi diterbangkan ke Kupang, lalu menuju Atambua, kota terdekat Indonesia dengan Timor Portugis. Rencana awal menyusup melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno batal. Mereka diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain, desa pantai di wilayah RI yang hanya berjarak 3 kilometer sebelah barat Kota Batugede, Timor Portugis. Karena situasi tidak memungkinkan, Tim Umi akhirnya menyusup jauh ke daerah pedalaman pegunungan di selatan Viquque. Di Kotabot, tim kembali dibagi dua. Mayor Sofian Effendi memimpin satu kelompok menyusup ke Tilomar, sementara Sutiyoso memimpin kelompok lainnya menuju Suai—sekaligus menjadi penyusupan terjauh dalam Operasi Flamboyan. "Saya dan pasukan mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viquque yang terletak jauh dari basis. Tapi sebagai seorang prajurit, kita selalu siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya apapun risikonya," kenang Sutiyoso.

Pertempuran Sengit dan Keputusan Kapten Manix

Menjelang tengah malam, saat mendekati Suai, pasukan kembali dipecah menjadi dua sasaran: markas polisi dan markas tentara. Sutiyoso menyasar markas tentara, sementara Letnan Bambang memimpin pasukan kecil menuju markas polisi. Tepat pukul 01.00 waktu setempat, Sutiyoso memberi isyarat dengan melepas tembakan. Kedua tim serentak menyerang. Perlawanan sengit terjadi. Setelah 20 menit bertempur, Sutiyoso melepas tembakan sebagai tanda mundur sesuai strategi hit and run. Namun, laporan datang: Sersan Parman, penembak roket launcher, tertembak di kaki. Pembantunya, Sarwono, juga tertembak hingga satu jari tangannya putus. Empat anggota lainnya ikut terluka. Saat akan dijemput, Parman dan Sarwono ternyata sudah berpindah posisi. Musuh terus mengejar. Pergerakan tim Sutiyoso kembali ke Kotabot terhambat karena harus bertempur sambil membopong keempat prajurit yang tertembak. Dalam situasi perang dahsyat seperti itu, secara nalar mereka "mestinya" ditembak mati agar tidak menjadi beban. Bahkan para senior yang dihubungi melalui radio menyarankan agar mereka ditinggal. Tapi Sutiyoso tidak tega. Dengan tiga anggota lainnya, ia membopong yang terluka sambil memanggul senjata.

Lima Hari Tanpa Makan, Evakuasi di Tengah Kepungan

Di tengah gempuran, anggota yang dipapah Sutiyoso meminta agar ditinggal dan dibekali granat. Jika tertangkap, mereka siap meledakkan diri. "Tidak! Kamu bisa saya selamatkan. Kuatkan saja dirimu!" tegas Sutiyoso. Mereka terus bergerak hingga siang hari. Rasa lapar dan haus mulai menyerang. Di tempat yang cukup aman, Sutiyoso membuka radio dan meminta bantuan helikopter. Namun, helikopter pertama terbang terlalu tinggi sehingga tidak melihat kepulan asap yang dibuat. Kolonel Dading kembali dihubungi untuk mengirim helikopter kedua, tetapi lagi-lagi pilot tidak melihat titik asap. Sutiyoso kemudian menembakkan pistol dengan tembakan isyarat warna hijau. Upaya itu berhasil, tetapi sekaligus membuat pasukan Fretilin mengetahui keberadaan mereka. Di tengah serangan musuh, Sutiyoso meletakkan senjata dan ransel untuk membopong anggotanya yang terluka naik ke helikopter. Keempat prajurit akhirnya berhasil dievakuasi.

Perjalanan Panjang Menuju Perbatasan

Setelah evakuasi, Sutiyoso kembali bergerak mencari jalan menuju perbatasan. Fretilin sudah menyebar di mana-mana. Perjalanan yang semula direncanakan 10 hari harus ditempuh dalam 15 hari. Selama lima hari terakhir, logistik habis total. Tidak ada makanan, tidak ada air minum. Keletihan, lapar, dan haus luar biasa, namun mereka harus terus bergerak menghindari kejaran. Di tempat yang dirasa aman, Sutiyoso memerintahkan pasukannya beristirahat. Namun ia sendiri terus menahan kantuk dan rasa letih. Ia tidak mau semua terlelap tanpa ada yang berjaga. Sutiyoso juga melarang anggotanya melepaskan tembakan kecuali sangat diperlukan, karena peluru masing-masing hanya tersisa 20 butir dari semula 250 butir. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali bergerak menyusuri jalur pantai, mengingat beberapa jalur telah disekat Fretilin. Satu per satu anggota bergerak pada malam hari. Hingga akhirnya, mereka selamat sampai di perbatasan dan masuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Semua anggota pasukan selamat, meski kondisi mereka amat kurus—tak terkecuali Sutiyoso, yang selama lima hari tidak makan.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar