Harga Emas Pulih Ditopang Data Inflasi AS, Namun Ketegangan di Selat Hormuz Batasi Kenaikan

- Jumat, 26 Juni 2026 | 02:00 WIB
Harga Emas Pulih Ditopang Data Inflasi AS, Namun Ketegangan di Selat Hormuz Batasi Kenaikan
PARADAPOS.COM - Harga emas dunia mengalami pemulihan pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, setelah sempat terperosok ke level terendah yang tidak terlihat sejak November 2025. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat pasca rilis data inflasi utama yang sesuai ekspektasi, meredakan kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga acuan. Namun, laju penguatan emas tertahan oleh kenaikan harga minyak menyusul serangan baru terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz, serta ketegangan antara AS dan Iran terkait biaya tol pelintasan jalur laut strategis tersebut.

Dolar Melemah, Inflasi PCE Jadi Katalis

Para pelaku pasar logam mulia mencermati betul rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti bulan Mei. Indikator ini menjadi tolok ukur inflasi favorit Federal Reserve. Data yang keluar sesuai atau sedikit lebih lemah dari perkiraan berhasil meredakan kekhawatiran akan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif. Indeks PCE inti tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan pada Mei. Angka ini selaras dengan konsensus pasar dan sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, PCE keseluruhan naik 0,4 persen (mtm) dan 4,1 persen (yoy), sedikit di bawah perkiraan kenaikan 0,5 persen secara bulanan. Meskipun demikian, angka inflasi tahunan tersebut masih jauh di atas target The Fed yang sebesar dua persen. Catatan ini sekaligus menjadi yang tertinggi sejak April 2023 untuk PCE inti dan Oktober 2023 untuk PCE keseluruhan.

Dinamika Kebijakan Moneter yang Cepat Berubah

Prospek kebijakan moneter global berubah drastis sejak pekan lalu. Penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia—yang dimulai setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah dan lonjakan harga minyak. Guncangan inflasi ini memaksa bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga atau setidaknya memberikan sinyal kenaikan. The Fed pun ikut bereaksi dengan memberikan proyeksi ekonomi yang jauh lebih agresif dari perkiraan di bawah kepemimpinan ketua baru, Kevin Warsh. Grafik proyeksi suku bunga terbaru menunjukkan setidaknya setengah dari anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengantisipasi kenaikan suku bunga tahun ini. Para pelaku pasar pun bergegas menyesuaikan taruhan mereka. Namun, penandatanganan kesepakatan perdamaian sementara antara AS dan Iran awal bulan ini membawa angin segar. Peningkatan lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak. Harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak September, yang menjadi patokan global, bahkan kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah meletus. Kekhawatiran inflasi pun mulai mereda. Wall Street sebagian besar meyakini laporan PCE Mei merupakan puncak dari dampak inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah. “Penutupan Selat Hormuz mendorong bank sentral global ke arah yang lebih agresif seiring dengan melonjaknya harga minyak. Tekanan jangka pendek diperkirakan akan mereda dengan penurunan harga minyak yang mengejutkan,” ungkap analis JPMorgan yang dipimpin oleh Alex Gallin. “Namun, risiko pertumbuhan cenderung meningkat di tengah inflasi inti yang tinggi dan pasokan tenaga kerja yang terbatas. Tekanan jangka menengah karenanya mengarah pada pengetatan yang lebih substansial daripada penyesuaian dangkal yang kami dan pasar proyeksikan. Pergeseran tak terduga menuju suku bunga yang lebih tinggi adalah perkembangan yang sering dikaitkan dengan tekanan keuangan,” lanjut mereka. Menurut alat CME FedWatch, reaksi pasar terhadap data PCE menunjukkan sedikit penurunan taruhan untuk kenaikan suku bunga Fed tahun ini. Sebaliknya, taruhan untuk bank sentral mempertahankan suku bunga tetap justru meningkat. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah umumnya menekan dolar dan menguntungkan aset non-imbal hasil seperti emas. Dolar yang lebih lemah juga membuat emas lebih menarik bagi pembeli asing.

Serangan Baru di Selat Hormuz Kembali Mengancam

Beralih dari data ekonomi, situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, dekat perairan Oman. Sebuah proyektil tak dikenal dilaporkan menyebabkan kerusakan pada anjungan kapal, namun tidak ada korban jiwa. Wall Street Journal kemudian mengutip dua pejabat senior AS yang mengonfirmasi bahwa kapal tersebut adalah kapal kargo berbendera Singapura. Pelaku serangan disebut-sebut adalah Korps Garda Revolusi Islam Iran. Insiden ini menjadi kemunduran diplomatik. Pasalnya, Presiden Donald Trump baru saja menandatangani kesepakatan damai sementara dengan Iran pekan lalu. Kesepakatan itu diharapkan dapat mengakhiri pertempuran di semua lini dan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Meski demikian, lalu lintas kapal tanker melalui jalur vital ini mulai menunjukkan perbaikan. Data dari Kpler mencatat penyeberangan yang dikonfirmasi meningkat dua kali lipat menjadi 70 kapal pada hari Rabu dibandingkan hari sebelumnya. Dengan latar belakang yang masih rapuh ini, harga minyak kembali ditutup lebih tinggi pada hari Kamis, sehari setelah menyentuh level terendah sejak sebelum konflik besar dimulai.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar