AS Siap Serang Lagi Infrastruktur Militer Iran Jika Pelayaran di Selat Hormuz Terancam

- Minggu, 28 Juni 2026 | 15:25 WIB
AS Siap Serang Lagi Infrastruktur Militer Iran Jika Pelayaran di Selat Hormuz Terancam
PARADAPOS.COM - Washington, AS, kembali menegaskan sikapnya terhadap Iran. Melalui Duta Besar untuk PBB, Mike Waltz, pemerintah Amerika menyatakan siap melanjutkan serangan ke infrastruktur militer Iran jika Teheran kembali mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang dimulai dengan serangan balasan rudal dan drone dari Garda Revolusi Iran ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, setelah Washington menyerang target-target di Iran.

Ancaman di Selat Hormuz dan Sikap Washington

Dalam wawancara dengan "Fox News" pada Minggu, 28 Juni 2026, Waltz menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tidak akan tinggal diam. Ia menyebut, setiap serangan terhadap jalur pelayaran internasional maupun pangkalan militer AS di kawasan akan mendapat respons langsung. “Kami siap mengambil tindakan militer untuk menghancurkan infrastruktur yang digunakan Iran guna mengendalikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz apabila diperlukan,” ujarnya. Meski retorika militer mengeras, Waltz mengakui bahwa pembahasan teknis antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung. Ia menyebut Presiden Trump tetap membuka pintu bagi penyelesaian diplomatik, namun mengingatkan bahwa kesabaran pemerintah AS memiliki batas. “Seluruh opsi masih terbuka untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Kronologi Serangan dan Balasan

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh tuduhan AS bahwa Iran menyerang sebuah kapal dagang di dekat Selat Hormuz. Sebagai respons, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Tak berselang lama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas. Mereka meluncurkan serangan rudal dan drone ke delapan fasilitas militer AS yang tersebar di Kuwait dan Bahrain. Langkah ini menjadi eskalasi signifikan dalam konflik yang sudah lama membara.

Diplomasi di Tengah Ketegangan

Menariknya, di sela-sela ketegangan ini, kedua negara sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni lalu. Dokumen itu bertujuan untuk mencapai perjanjian damai permanen. Bahkan, pembicaraan teknis mengenai implementasi kesepakatan tersebut sudah dimulai pada 21 Juni. Namun, serangan terbaru ini seolah menguji komitmen kedua belah pihak terhadap meja perundingan. Waltz sendiri enggan menyebut apakah proses diplomasi masih berjalan seperti biasa, atau justru terhenti akibat insiden militer terakhir. Dari lapangan, situasi di kawasan Teluk masih tegang. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sepertiga minyak dunia, kembali menjadi titik rawan konflik. Setiap gerakan militer di sana bisa memicu dampak ekonomi global yang luas.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar