PARADAPOS.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan bahwa negaranya akan segera menerima kembali dana sebesar USD6 miliar (setara Rp107,4 triliun) yang selama ini dibekukan di Qatar. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan dengan Ayatollah Agung Shobeiri Zanjani pada Senin lalu. Dana tersebut merupakan setengah dari total aset Iran senilai USD12 miliar yang disimpan di Qatar dan akan dicairkan berdasarkan nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat.
Pengumuman ini muncul di tengah dinamika hubungan kedua negara yang kompleks. Pezeshkian menjelaskan bahwa pencairan dana ini adalah bagian dari kesepakatan yang lebih luas, yang menurutnya merupakan langkah positif bagi perekonomian Iran yang tengah tertekan sanksi internasional.
Detail Pencairan Dana dan Respons di Lapangan
"Berdasarkan rencana yang telah disusun, dana Iran sebesar USD6 miliar dari total USD12 miliar yang berada di Qatar akan dirilis dan dikembalikan ke negara ini," ujar Pezeshkian, seperti dikutip dari laporan media setempat pada Selasa, 30 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa pemerintah Iran masih melanjutkan upaya untuk memulangkan sisa aset yang masih berada di luar negeri.
Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian menyebut MoU Iran dan Amerika Serikat sebagai "kemenangan besar bagi rakyat Iran." Ia juga menegaskan bahwa sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran telah dicabut sesuai dengan kesepakatan tersebut. Menurutnya, Amerika Serikat pada akhirnya mendorong Israel untuk menerima kesepakatan itu, meskipun pelaksanaannya masih mendapat tentangan dari Israel dan sejumlah kelompok lain.
Mekanisme Kesepakatan dan Bantahan dari Negosiator
Berdasarkan MoU yang dimediasi oleh Pakistan, Iran dan Amerika Serikat memasuki masa negosiasi selama 60 hari untuk menyusun perjanjian final. Kesepakatan tersebut antara lain mencakup penghentian permanen operasi militer, pencabutan blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, serta pemulihan lalu lintas komersial di Selat Hormuz. Namun, ada perbedaan pandangan mengenai bagaimana dana tersebut akan digunakan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dana yang dicairkan akan digunakan untuk membeli jagung, gandum, dan kedelai dari petani Amerika Serikat, sehingga tidak akan diterima secara langsung oleh Teheran. Pernyataan ini langsung dibantah oleh negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Ia menuding Washington menyampaikan informasi yang tidak benar mengenai mekanisme pencairan dana tersebut.
Ketahanan Nasional di Tengah Tekanan Eksternal
Di tengah semua perkembangan ini, Pezeshkian juga memuji ketahanan rakyat Iran selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, tekanan militer, ekonomi, serta serangan terhadap fasilitas industri dan energi tidak mampu menghentikan pembangunan Iran. Ia menekankan bahwa hal ini berkat dukungan masyarakat dan angkatan bersenjata yang solid.
Suasana di Teheran sendiri terlihat tenang namun waspada. Warga yang ditemui di sekitar pusat kota mengaku berharap pencairan dana ini bisa segera meringankan beban ekonomi yang selama ini mereka rasakan. Seorang pedagang di pasar tradisional, misalnya, menyambut baik kabar ini meski masih menunggu realisasi di lapangan. "Kami hanya ingin harga kebutuhan pokok turun," katanya singkat.
Artikel Terkait
PDI Perjuangan TTU Nonaktifkan Kadernya Veronika Lake Terkait Dugaan Intimidasi terhadap Dokter Icha
Presiden Prabowo Pimpin Langsung Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas
Indonesia Capai Swasembada Beras Tanpa Impor, Stok Pemerintah Tembus Rekor 5,17 Juta Ton
Mitsubishi Konfirmasi Pajero 2027 Kembali dengan Panel Digital Ikonik untuk Off-Road