MUI: Zina Tak Sekadar Hubungan Fisik, Mata hingga Hati Juga Bisa Berzina

- Sabtu, 04 Juli 2026 | 15:00 WIB
MUI: Zina Tak Sekadar Hubungan Fisik, Mata hingga Hati Juga Bisa Berzina
PARADAPOS.COM - Jakarta, 4 Juli 2026. Konsep zina dalam ajaran Islam ternyata memiliki cakupan yang jauh lebih luas dari sekadar hubungan seksual di luar pernikahan yang sah. Berdasarkan penjelasan dari Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zia Ul Haramein, setiap anggota tubuh manusia memiliki potensi untuk melakukan zina sesuai fungsinya masing-masing—dari pandangan mata hingga angan-angan hati. Pemahaman ini merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang memberikan kerangka komprehensif tentang bentuk-bentuk pelanggaran moral yang selama ini mungkin luput dari perhatian umum.

Zina Tak Sekadar Fisik: Perspektif Hadis

Rasulullah Muhammad saw. telah memberikan penjelasan yang gamblang bahwa zina tidak hanya terbatas pada perbuatan fisik. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari nomor 6243 dan Muslim nomor 657, disebutkan secara rinci bagaimana setiap indra dan anggota tubuh bisa terjerumus ke dalam perbuatan tercela ini. "“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.”" Hadis ini menjadi landasan utama bahwa dosa zina memiliki spektrum yang luas, dimulai dari hal-hal yang tampak sepele hingga perbuatan yang nyata.

Penjelasan MUI: Ragam Zina yang Sering Terabaikan

Zia Ul Haramein, anggota Komisi Fatwa MUI, memberikan penjabaran lebih lanjut mengenai keragaman bentuk zina ini. Menurutnya, masyarakat awam seringkali hanya memahami zina dalam konteks sosial yang sempit, yaitu hubungan seksual antar lawan jenis. “Tentu bentuk zina ini sangat beragam. Ada bentuk zina yang belum masuk ke dalam makna sosialnya. Makna sosialnya kan tentunya orang yang melakukan hubungan lawan jenis dan itu sudah dihitung sebagai hubungan seksual,” jelas Zia Ul. Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan pendekatan holistik dalam menjaga kesucian diri. Setiap anggota tubuh memiliki potensi untuk melakukan zina sesuai dengan karakteristiknya. Mata berzina melalui pandangan yang tidak sepatutnya. Telinga berzina dengan mendengarkan hal-hal yang haram. Lisan berzina melalui ucapan-ucapan yang tidak pantas. Tangan berzina dengan sentuhan yang terlarang, dan kaki berzina dengan melangkah menuju tempat-tempat maksiat. Bahkan, lanjutnya, hati dan pikiran pun tidak luput dari potensi ini. Zina batin terjadi melalui khayalan, imajinasi, dan niat-niat yang tidak baik. Hal ini menunjukkan betapa ajaran Islam sangat memperhatikan kemurnian dan kesucian manusia secara menyeluruh, tidak hanya dari segi perbuatan fisik tetapi juga dari aspek batin dan spiritual. “Ada zina-zina lain yang mengarah pada makna tersebut (zina), seperti zina ‘ain (mata), zina qolbi (hati), dengan imajinasi. Zina ucapan juga demikian ketika ada ucapan yang mesum, zina tangan, zina kaki jika kaki mengarah dan mengajak pada tempat lokalisasi,” tambahnya.

Implikasi dan Perlindungan Moral

Dengan memahami berbagai bentuk zina ini, umat Muslim diharapkan dapat membangun kesadaran yang lebih utuh. Pengetahuan ini bukan sekadar untuk mengetahui dosa, melainkan sebagai bagian dari perlindungan dan pembinaan akhlak yang bertujuan menciptakan masyarakat yang bersih, suci, dan bermoral tinggi. Setiap bentuk zina memiliki tingkatan dan konsekuensi yang berbeda. Namun, semuanya berpotensi mengarah pada zina yang hakiki jika tidak segera dihindari dan dikendalikan. Oleh karena itu, pemahaman tentang ragam zina ini menjadi bekal penting bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ini adalah upaya untuk membangun benteng moral yang kuat dan merealisasikan konsep tazkiyatun nafs—pensucian jiwa—sebagai bagian integral dari ibadah kepada Allah Swt.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar