PARADAPOS.COM - Bank of America (BofA) memperkirakan koreksi harga emas dunia berpotensi berlanjut setelah muncul sejumlah sinyal teknikal yang menyerupai pola pembentukan puncak harga pada 1980 dan 2011. Dalam riset terbaru yang dirilis Jumat, 17 Juli 2026, tim analis yang dipimpin Paul Ciana mengidentifikasi kombinasi indikator yang meningkatkan risiko pelemahan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Indikator tersebut meliputi death cross, posisi net-long yang tinggi, pola candlestick pembalikan arah, sinyal TD Sequential yang menunjukkan kelelahan tren, serta Relative Strength Index (RSI) yang sempat mencapai level 90 ketika harga mencetak rekor tertinggi. Kombinasi serupa pernah muncul menjelang pasar bearish emas pada 1980 dan 2011.
Koreksi Belum Cukup Panjang
BofA menilai fase koreksi yang terjadi saat ini belum cukup panjang apabila dibandingkan dengan tren kenaikan sebelumnya. Tim analis yang dipimpin Paul Ciana menjelaskan, "Koreksi saat ini baru berlangsung selama 24 pekan dibandingkan kenaikan sebelumnya yang berlangsung selama 121 pekan."
Ia menambahkan, "Meskipun harga emas telah menembus level retracement Fibonacci 38,2 persen di USD4.149, koreksi tersebut masih tergolong terlalu singkat dibandingkan tren naik sebelumnya."
Sejak awal tahun, harga emas (XAU/USD) tercatat turun sekitar 7,5 persen. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir, harga sempat melemah hingga 16,8 persen.
Diramal Ambruk hingga ke Level USD3.300-an
BofA membandingkan kondisi saat ini dengan tiga periode pasar bearish emas sejak 1970. Dalam setiap siklus tersebut, harga emas terkoreksi sedikitnya 50 persen dari fase kenaikan sebelumnya. Jika pola serupa kembali terjadi pada siklus saat ini, BofA memperkirakan harga emas berpotensi turun hingga sekitar USD3.315 per troy ons.
Selain itu, metode analisis historis yang digunakan BofA menunjukkan potensi pelemahan menuju USD3.605. Sementara itu, level retracement Fibonacci 50 persen berada di sekitar USD3.702, yang dinilai menjadi area penting apabila tekanan jual berlanjut.
Meski prospek jangka menengah masih negatif, BofA menilai harga emas berpeluang mengalami pemantulan sementara sebelum kembali terkoreksi. Paul Ciana memperkirakan harga emas dapat bergerak naik ke kisaran USD4.325 hingga USD4.500 sebelum kembali menguji area retracement Fibonacci 50 persen di sekitar USD3.702. Menurut BofA, pola tersebut menyerupai pergerakan harga emas setelah mencapai puncak pada 2011, ketika sempat terjadi reli jangka pendek sebelum tren penurunan berlanjut.
Strategi Akumulasi Bertahap
Meski memperingatkan risiko koreksi lebih dalam, BofA tidak menyarankan investor keluar sepenuhnya dari pasar emas. Sebaliknya, lembaga keuangan tersebut merekomendasikan strategi akumulasi secara bertahap sesuai level harga.
"Kami lebih menyukai akumulasi moderat di bawah USD4.000. Namun, jika risiko penurunan masih berlanjut, investor dapat menambah posisi di kisaran USD3.700 hingga USD3.600, lalu meningkatkan alokasi pada area USD3.450 hingga USD3.250," ujar Ciana.
BofA juga menilai paruh kedua 2026 menjadi periode yang perlu dicermati. Periode tersebut berpotensi menentukan apakah koreksi saat ini hanya merupakan konsolidasi dalam tren naik atau awal dari pasar bearish yang lebih panjang.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wamensos Pastikan Perawatan Penuh untuk Putra Sayuti Melik di Sentra Rehabilitasi Bekasi
Polresta Denpasar: WNI Tewas Dicekik di Kos, Kekasih WNA Singapura Jadi Tersangka
Kebakaran Landa TPA Cipayung Depok, DLHK Perketat Patroli 24 Jam dan Larang Aktivitas Berpotensi Api
Prabowo Tegaskan Indonesia Sudah Dewasa dalam Kebijakan, Pemimpin Bukan Sosok Bodoh atau Penakut