Ledakan Gudang Amunisi di Madiun Tewaskan Satu Prajurit, DPR Desak Investigasi Menyeluruh

- Minggu, 19 Juli 2026 | 00:25 WIB
Ledakan Gudang Amunisi di Madiun Tewaskan Satu Prajurit, DPR Desak Investigasi Menyeluruh
PARADAPOS.COM - Sebuah ledakan dahsyat mengguncang Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad) di Kecamatan Saradan, Madiun, Jawa Timur, pada Kamis, 16 Juli 2026. Insiden yang terjadi saat prajurit tengah melakukan perawatan rutin itu menewaskan satu orang dan melukai enam lainnya. Menanggapi tragedi ini, Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, mendesak TNI Angkatan Darat segera membentuk tim investigasi untuk mengusut tuntas penyebab ledakan dan mengevaluasi total standar pengamanan gudang amunisi.

Investigasi Menyeluruh Diperlukan

Hasanuddin menekankan bahwa tim investigasi tidak boleh hanya berfokus pada satu aspek saja. Menurutnya, pemeriksaan harus menjangkau seluruh elemen penyimpanan amunisi. “Tim investigasi harus memeriksa apakah sistem penyimpanan amunisi telah memenuhi seluruh persyaratan dan standar keamanan, mulai dari kondisi ruangan, pengaturan suhu, penataan amunisi di dalam gudang, hingga penerapan prosedur pengamanan,” ujarnya di Jakarta, Minggu, 19 Juli 2026. Lebih lanjut, politisi itu menegaskan pentingnya menelusuri kondisi amunisi yang tersimpan. Pemeriksaan terhadap usia pakai, potensi kedaluwarsa, kerusakan, atau penurunan kualitas amunisi dinilai krusial untuk mengungkap pemicu kecelakaan. “Seluruh faktor yang memungkinkan terjadinya ledakan harus ditelusuri secara menyeluruh, baik dari aspek teknis, kondisi fasilitas, kelalaian manusia, maupun kepatuhan terhadap prosedur operasional,” tegas Hasanuddin.

Kekhawatiran soal Jarak dengan Permukiman

Selain persoalan teknis penyimpanan, sorotan tajam juga diarahkan pada lokasi gudang. Hasanuddin menyoroti posisi Gupusmu II yang dinilai terlalu dekat dengan permukiman warga. Ia mendesak pemerintah untuk segera memindahkan fasilitas tersebut ke kawasan yang lebih terisolasi jika terbukti tidak lagi memenuhi standar jarak aman yang berlaku. “Hasil investigasi harus menjadi dasar untuk memperbaiki sistem penyimpanan, pengawasan, dan pengamanan amunisi agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” kata Hasanuddin. Di tengah suasana duka, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono memberikan keterangan resmi. Ia memastikan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis. "Seluruh korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis secara cepat sekaligus melaporkan secara prosedural dan berjenjang," jelasnya.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar