Investor Abaikan Pendapatan Solid, Aksi Jual Besar-besaran Seret Kospi ke Zona Merah

- Minggu, 19 Juli 2026 | 01:25 WIB
Investor Abaikan Pendapatan Solid, Aksi Jual Besar-besaran Seret Kospi ke Zona Merah
PARADAPOS.COM - Aksi jual besar-besaran melanda saham Korea Selatan meskipun pendapatan perusahaan menunjukkan kinerja yang solid. Riset terbaru dari KB Securities mengungkapkan bahwa investor saat ini lebih terfokus pada biaya pembiayaan dan ketidakpastian geopolitik, bukan pada peningkatan keuntungan perusahaan. Fenomena ini menyeret indeks acuan Kospi ke zona merah, dengan raksasa semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi yang paling terpukul.

Pendapatan Bukan Lagi Pendorong Utama

Analis KB Securities menegaskan bahwa pendapatan bukanlah pendorong utama di balik penurunan Kospi belakangan ini. Pasar, menurut mereka, kini menilai investasi kecerdasan buatan melalui lensa biaya pendanaan, bukan prospek pertumbuhan jangka panjang. “Pendapatan bukanlah pendorong utama di balik penurunan Kospi baru-baru ini,” ungkap analis tersebut, seraya menambahkan bahwa pasar semakin menilai investasi AI dari sisi biaya pendanaan. Samsung Electronics dan SK Hynix sama-sama mencatatkan penurunan tajam dari puncak-puncak terbaru mereka. Kondisi ini menyeret indeks acuan Kospi lebih dalam, meskipun ekspektasi pendapatan kedua perusahaan tetap stabil. Menurut KB Securities, pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan katalis makroekonomi yang mampu menstabilkan suku bunga. Selain itu, diperlukan pula peristiwa spesifik dari masing-masing perusahaan yang dapat mengembalikan kepercayaan di kalangan penyedia modal.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed dan Ketidakpastian Global

Perusahaan pialang tersebut mencatat bahwa kekhawatiran atas pengembalian investasi modal terkait AI sebenarnya bukanlah hal baru. Mereka merujuk pada aksi jual serupa pada November lalu yang kemudian berbalik arah saat ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve AS menguat. “Biaya pinjaman yang lebih rendah, bukan kepercayaan yang lebih besar pada profitabilitas AI, yang mendorong pemulihan tersebut,” jelas mereka. Para analis juga menyoroti bahwa ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah lebih tinggi. Situasi ini menghidupkan kembali kekhawatiran akan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang pada akhirnya membebani valuasi ekuitas. Meski demikian, mereka memperkirakan ketidakpastian geopolitik akan mereda seiring waktu. Tekanan politik pada pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS disebut sebagai faktor yang dapat meredakan situasi. “Harga minyak yang lebih tinggi dan biaya pinjaman dapat merugikan dukungan pemilih,” ujar para analis.

Potensi Kebijakan dan Risiko Jangka Panjang

Laporan tersebut juga menyoroti potensi perkembangan kebijakan yang dapat meningkatkan sentimen pasar. Salah satunya adalah proposal OpenAI untuk memberikan pemerintah AS lima persen saham ekuitas guna mendirikan dana kekayaan negara yang berfokus pada AI. Jika diadopsi, para analis mengatakan langkah tersebut dapat mengurangi risiko gagal bayar yang dirasakan untuk investasi AI. Hal ini berpotensi menurunkan biaya pendanaan dan mempersempit selisih kredit korporasi. Namun, mereka memperingatkan bahwa dukungan pemerintah yang lebih besar juga dapat mendorong pengambilan risiko yang berlebihan. “Dukungan pemerintah yang lebih besar juga dapat mendorong pengambilan risiko yang berlebihan dan menggembungkan gelembung aset dalam jangka panjang,” tutup mereka.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar