Indonesia Tegaskan Sentralitas ASEAN Tak Tergerus oleh Pertemuan Myanmar-Rusia

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Indonesia Tegaskan Sentralitas ASEAN Tak Tergerus oleh Pertemuan Myanmar-Rusia

PARADAPOS.COM - Jakarta, 20 Agustus 2026 — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa pertemuan bilateral antara Pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow tidak akan menggerus sentralitas ASEAN. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis. Ia menekankan bahwa hubungan bilateral Myanmar dengan negara mana pun adalah hak prerogatif masing-masing negara, namun hal itu tidak lantas mereduksi peran utama ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya dalam upaya membantu Myanmar keluar dari krisis politik yang berk berkepanjangan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah dinamika politik kawasan yang tengah diuji. Kunjungan Min Aung Hlaing ke Moskow pada Selasa, 18 Agustus, menjadi sorotan karena merupakan lawatan pertamanya ke negara non-tetangga sejak menjabat sebagai presiden pada April 2026. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas penguatan kerja sama di bidang energi, pertahanan, dan sejumlah proyek ekonomi strategis. Indonesia, sebagai salah satu pendiri ASEAN, merespons perkembangan ini dengan kepala dingin dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar organisasi.

Sentralitas ASEAN dan Hak Bilateral Negara

Yvonne Mewengkang menjelaskan bahwa pihaknya mencermati secara saksama pertemuan tingkat tinggi tersebut. Namun, ia menggarisbawahi satu hal mendasar: setiap negara berdaulat memiliki hak untuk menjalin hubungan bilateral dengan negara lain. “Pada prinsipnya, hubungan bilateral Myanmar dengan negara-negara itu kan merupakan kewenangan dan hak dari masing-masing negara dan hal tersebut definitely tidak serta-merta langsung mempengaruhi sentralitas ASEAN itu sendiri,” tuturnya dalam press briefing yang digelar di Jakarta.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa sentralitas ASEAN bagi Indonesia bukanlah sekadar jargon. Lebih dari itu, ini adalah kemampuan nyata ASEAN untuk memainkan peran utama dalam menangani berbagai isu yang berdampak langsung pada kawasan. Pandangan ini menjadi dasar bagi Indonesia untuk tetap meyakini bahwa ASEAN memiliki peran penting dalam membantu Myanmar mencari penyelesaian atas persoalan yang dihadapinya.

Konsensus Lima Poin Tetap Jadi Rujukan Utama

Di tengah dinamika yang ada, Indonesia bersikap konsisten. Yvonne menegaskan bahwa Konsensus Lima Poin (5PC) tetap menjadi kompas utama ASEAN dalam mendampingi Myanmar. “Dan dalam hal ini 5PC akan tetap menjadi rujukan utama ASEAN dalam membantu Myanmar menemukan penyelesaian yang damai dan inklusif juga berkelanjutan,” ujarnya. Penegasan ini disampaikan untuk menjawab keraguan sebagian pihak yang menilai ASEAN mulai kehilangan pengaruh di Myanmar.

Sikap teguh ini bukannya tanpa alasan. Sepanjang tahun ini, hubungan Myanmar dengan ASEAN memang dihadapkan pada sejumlah ujian. Pada Juli lalu, parlemen Myanmar mengadopsi mosi yang meminta pemerintahnya meninjau kembali posisi terhadap 5PC. Pemerintah Myanmar juga kerap menyuarakan agar ASEAN menghormati prinsip kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri.

Perbedaan Pandangan yang Masih Menganga

Tantangan semakin nyata ketika pemerintah Myanmar pada Agustus menyatakan bahwa posisi Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar tidak lagi diperlukan. Sikap ini diambil setelah pemilu yang digelar pada akhir 2025 dan awal 2026. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa masih ada jarak pandang yang cukup lebar antara Naypyidaw dan sekretariat ASEAN mengenai mekanisme penyelesaian krisis yang paling tepat.

Meski demikian, Indonesia tidak melihat situasi ini sebagai jalan buntu. Dari perspektif Jakarta, justru di sinilah pentingnya menjaga saluran komunikasi tetap terbuka. Ketegangan yang ada tidak lantas mengubah keyakinan Indonesia bahwa dialog dan pendekatan yang inklusif adalah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan di Myanmar. Bagi Indonesia, stabilitas kawasan adalah harga mati yang harus dijaga bersama, dan ASEAN tetap menjadi wadah yang paling relevan untuk mewujudkannya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar