PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. Penguatan ini didorong oleh rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 yang defisitnya menyempit signifikan, serta didukung oleh aliran modal asing yang kembali masuk. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.694 per USD, naik 54 poin atau 0,30 persen dari posisi sebelumnya.
Di pasar keuangan, pergerakan rupiah terpantau solid sepanjang hari. Data dari Yahoo Finance bahkan menunjukkan posisi yang sedikit lebih kuat, yakni di Rp17.690 per USD. Angka ini menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.774 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah di level Rp17.705 per USD, juga lebih baik dibandingkan pekan lalu yang berada di Rp17.779 per USD.
Penguatan ini terjadi di tengah rilis data neraca pembayaran yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada hari yang sama. Meski masih mencatat defisit, angkanya jauh lebih kecil dari periode sebelumnya, memberikan sentimen positif bagi pasar.
Defisit Neraca Pembayaran Menyempit
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 mencatat defisit USD0,9 miliar. Angka ini menyusut drastis dibandingkan defisit pada kuartal I-2026 yang mencapai USD9,1 miliar. Perbaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa kinerja NPI pada kuartal II 2026 tetap terjaga. Pihaknya menilai ketahanan eksternal perekonomian Indonesia masih solid di tengah gejolak ekonomi global.
"Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 tercatat sebesar USD12,5 miliar (3,3 persen dari PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD3,6 miliar (1,0 persen dari PDB)," jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Ramdan memaparkan sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan komponen NPI. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah, dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Selain itu, defisit neraca pendapatan primer ikut meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada kuartal I-2026.
Di tengah tekanan pada transaksi berjalan, arus modal justru menunjukkan perbaikan. Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD12,0 miliar pada kuartal II-2026, berbalik dari defisit sebesar USD4,8 miliar pada kuartal sebelumnya. Masuknya aliran modal ini menjadi penopang utama penguatan nilai tukar rupiah di pasar.
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Polisi Tembus Tujuh Titik Terisolir di NTT Usai Gempa, Distribusi Bantuan Terhambat Medan Ekstrem
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun