PARADAPOS.COM - Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, lima hari lalu masih menyisakan duka mendalam bagi warga Kabupaten Ende. Di tengah guncangan susulan yang kerap terjadi, para pengungsi bertahan di lokasi pengungsian mandiri dengan fasilitas seadanya, sementara bantuan logistik dari pemerintah belum kunjung tiba. Warga mengaku bertahan hidup dengan cara patungan membeli bahan makanan dan membangun tenda darurat dari terpal seadanya.
Hari kelima pasca gempa, suasana di Ende masih diliputi kecemasan. Jalan-jalan di sekitar area persawahan tampak sepi, namun di balik terpal-terpal biru yang direntangkan seadanya, puluhan keluarga mencoba bertahan dari dinginnya malam dan ketakutan akan reruntuhan. Umar Bahari, seorang warga terdampak, menuturkan bahwa ia dan keluarganya terpaksa mendirikan tenda darurat di samping pematang sawah. Di dalam tenda sempit itu, sekitar 15 orang berkumpul untuk saling menghangatkan diri.
Bertahan di Tenda Darurat Buatan Sendiri
Umar menceritakan bahwa hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai bantuan tenda dari pemerintah. Karena tidak ingin terus menunggu, ia memilih untuk membangun tempat berlindung sendiri menggunakan terpal seadanya. "Untuk sementara kami belum ada info, info bahwa kami ini dapatkan tenda darurat dari pemerintah, tapi untuk sementara belum ada info. Jadi kami lebih memilih bangun sendiri dari terpal yang apa seadanya saja supaya kami bisa di tempatkan untuk tidur berkumpul kami satu keluarga di satu tenda," ungkapnya dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kondisi ini diperparah dengan belum adanya bantuan logistik seperti bahan makanan dan selimut yang menyentuh lokasi pengungsian. Untuk mengisi perut, warga harus bahu-membahu dan saling berbagi simpanan makanan yang tersisa. Umar menambahkan, "Makanan sehari-hari kami dari keluarga, kebetulan saya sebagai kepala keluarga ada yang mendirikan satu tenda di tempatnya saya, kami lebih memilih untuk patungan itu belanja dari keluarga masih ada simpanan, mungkin ada makan dari tetangga yang satu tenda sama saya saling membantu, bahu-membahu."
Rumah Rusak dan Trauma Guncangan Susulan
Di sisi lain, kondisi rumah Umar kini sudah tidak layak huni. Tembok-temboknya retak, bagian depan bangunan mulai runtuh, dan fasilitas sanitasi atau WC hancur total. Trauma akibat guncangan susulan membuat warga enggan masuk ke dalam rumah. Umar menggambarkan situasi tersebut dengan nada cemas, "Untuk sementara ini kami juga belum memilih untuk bersihkan dan masuk di dalam juga, masuk juga kayak seperti kucing dan anjing itu, masuk seperempat jam, lima menit keluar, kan takut jangan sampai kita masuk mau ke dalam akhirnya turun lagi gempa, akhirnya kita takut tertimpa oleh bangunan ke kayu ke dari atas jatuh-jatuh."
Kebutuhan mendesak yang sangat diharapkan warga saat ini adalah bahan pangan, selimut, dan obat-obatan. Umar mewakili warga terdampak sangat berharap agar pemerintah, baik daerah maupun pusat, dapat segera menyalurkan bantuan secara langsung kepada mereka yang sedang berjuang bertahan hidup di pengungsian mandiri. Setiap hari yang berlalu tanpa bantuan, semakin berat pula beban yang harus ditanggung para korban yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Perpanjang Penggalangan Dana untuk Korban Gempa Flores hingga 25 Agustus, Terkumpul Rp5,85 Miliar
Gempa Flores: 75 Tewas, 92.735 Mengungsi, BNPB Kerahkan Tiga Jalur Distribusi Bantuan
Kebakaran Hanguskan Sejumlah Rumah di Senen, 29 Mobil Damkar Dikerahkan
Danantara Umumkan Langkah Awal Transformasi Transportasi Nasional, Target Tekan Biaya Logistik