Pengamat: Kehancuran Orde Baru Berawal dari Dalam Istana, Prabowo Diingatkan soal Dinamika Internal Kabinet

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Pengamat: Kehancuran Orde Baru Berawal dari Dalam Istana, Prabowo Diingatkan soal Dinamika Internal Kabinet
PARADAPOS.COM - Pengamat kebijakan publik, Syukur Mandar, melontarkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto dengan merujuk pada pengalaman pahit runtuhnya kekuasaan Presiden kedua RI, Soeharto, setelah tiga dekade berkuasa. Dalam analisisnya, Syukur menekankan bahwa kehancuran Orde Baru tidak datang dari luar, melainkan justru lahir dari dalam lingkaran istana sendiri. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah diskusi yang tayang di kanal YouTube Forum Keadilan TV dan dikutip pada Kamis (20/8). Menurut Syukur, selama 32 tahun memerintah, Soeharto membangun konstruksi kekuasaan yang sangat solid. Seluruh instrumen negara, mulai dari tentara, polisi, hingga partai politik, dikendalikan dengan kendali yang ketat dan terstruktur. Tidak ada celah sedikit pun bagi gerakan-gerakan kritis untuk tumbuh di luar kendali pemerintah. "Pak Harto 32 tahun dia mengkonstruksi kekuasaan orde baru begitu rapinya. Dan dia menjaga setiap lubang-lubang pemberontakan itu. Lubang-lubang kritis dijagain betul itu ditaruh tentara di situ, taruh polisi di situ, ditaruh semua. Partai juga diikat betul. Semua instrumen kekuasaan dirapikan. Betul," ujarnya dalam kesempatan tersebut. Namun, di balik kokohnya struktur kekuasaan itu, justru terdapat ironi besar. Syukur menilai bahwa keruntuhan Soeharto pada akhirnya dipicu oleh gejolak yang menggelembung perlahan dari dalam istana, bukan dari tekanan eksternal. Titik puncaknya terjadi ketika para pembantunya sendiri mulai meninggalkannya. "Andai 16 apa berapa belas menteri itu tidak mundur mungkin Soeharto masih bertahan. Iya ada tumpah darah," tegasnya. Momentum bersejarah itu terjadi pada 20 Mei 1998, ketika sebanyak 14 menteri kabinet Soeharto secara serentak menyatakan mundur dan menolak untuk duduk kembali dalam Kabinet Reformasi. Langkah berani tersebut menjadi pukulan telak yang tidak pernah dibayangkan Soeharto selama tiga dekade kekuasaannya, karena untuk pertama kalinya ia menghadapi penolakan terbuka dari orang-orang terdekatnya sendiri. Dari peristiwa bersejarah tersebut, Syukur kemudian menarik benang merah untuk kepemimpinan Prabowo saat ini. Ia mengingatkan bahwa presiden tidak cukup hanya dikelilingi oleh orang-orang yang loyal dan patuh. Lebih dari itu, diperlukan sosok-sosok jenius yang mampu menerjemahkan visi presiden menjadi kebijakan yang tepat sasaran. Menurut pengamatannya, titik paling rapuh dalam pemerintahan Prabowo justru terletak pada dinamika internal kabinet. Ia menilai bahwa potensi kegagalan terbesar tidak datang dari oposisi atau tekanan publik, melainkan dari ketidakharmonisan dan ketidakmampuan para pembantu presiden dalam menjalankan roda pemerintahan. "Justru dari dalam kabinet menurut saya sumbangsih terbesar yang membuat Presiden Prabowo ini gagal adalah sumbangsih dalam internal kabinet," ungkap Syukur. Pelajaran Sejarah yang Terulang Fenomena runtuhnya kekuasaan dari dalam ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Orde Baru menjadi contoh paling gamblang bagaimana sebuah kekuasaan yang tampak absolut dan tak tergoyahkan bisa runtuh dalam hitungan minggu ketika para pendukung utamanya menarik dukungan. Ancaman Diam-diam di Lingkaran Kekuasaan Syukur menekankan bahwa bahaya terbesar bagi seorang pemimpin sering kali tidak terlihat dari permukaan. Loyalitas yang tampak solid bisa saja menyimpan dinamika yang kompleks di baliknya. Oleh karena itu, ia menyarankan agar presiden lebih jeli dalam membaca situasi internal dan tidak terjebak pada rasa nyaman karena dikelilingi orang-orang yang selalu setuju. Refleksi untuk Masa Depan Peringatan ini menjadi bahan refleksi penting bagi pemerintahan saat ini. Sejarah telah membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun tanpa fondasi internal yang sehat akan mudah goyah, sekalipun instrumen kekuasaan di luar tampak sempurna. Ke depan, kemampuan presiden dalam mengelola dinamika kabinet akan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pemerintahannya.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar