PARADAPOS.COM - Akses jalan utama penghubung tiga desa di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih lumpuh total akibat tertutup material longsor pascagempa. Jalan yang menghubungkan Desa Natakoli, Hale, dan Hebing menuju Desa Egon Gahar serta jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete itu menjadi jalur krusial bagi distribusi logistik, layanan kesehatan, dan mobilitas warga. Hingga kini, sebuah batu besar masih menghalangi badan jalan dan belum bisa disingkirkan secara manual, memaksa kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mencari jalur alternatif yang jauh lebih panjang.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi warga yang tengah berjuang memulihkan diri dari dampak gempa. Sekretaris Camat Mapitara, Stefanus Raga, menyebut jalur tersebut adalah satu-satunya akses terdekat menuju pusat layanan dan kota. Penutupan jalan otomatis memutus rute tercepat warga tiga desa untuk mencapai fasilitas publik, sekaligus menghambat laju bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
Jalur Alternatif yang Memutar dan Berisiko
Dengan tertutupnya akses utama, distribusi kebutuhan pokok dan bantuan untuk warga terdampak harus dialihkan melalui rute lain. Kendaraan pengangkut logistik kini harus menempuh jalur alternatif melalui pesisir selatan Flores. Rute memutar ini melewati Kecamatan Doreng, Bole, dan Hewokloang sebelum akhirnya kembali terhubung dengan jalan negara Trans Flores.
Konsekuensinya, jarak tempuh menjadi jauh lebih lama dan biaya operasional pun meningkat. Dalam masa tanggap darurat seperti sekarang, kelambatan distribusi pangan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya bisa memperparah kondisi warga yang tengah berada dalam situasi sulit. Stefanus mengungkapkan kekhawatirannya terkait keselamatan para pengguna jalan alternatif tersebut.
“Kendaraan harus memutar jauh lagi dan jarak tempuhnya lebih lama. Orang pun takut melintasi jalan tersebut karena bisa terkena material longsor sebab daerah tersebut rawan longsor,” katanya saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dampak pada Pelayanan Kesehatan dan Mobilitas Warga
Terputusnya akses utama memberikan dampak signifikan pada sektor pelayanan kesehatan. Ambulans dari Puskesmas Mapitara yang hendak merujuk pasien ke RS TC Hillers Maumere terpaksa harus melewati jalur alternatif yang lebih panjang. Kondisi ini menjadi kendala serius, terutama bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis lanjutan secara cepat dan tepat waktu.
Mobilitas warga Desa Egon Gahar menuju pusat pelayanan di Kecamatan Mapitara juga ikut terganggu. Mereka harus menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang dan melelahkan hanya untuk bisa sampai ke Puskesmas Mapitara atau Kantor Camat Mapitara. Situasi ini tentu menambah beban psikologis dan fisik bagi warga yang tengah berjuang memulihkan diri pascagempa.
Harapan akan Kehadiran Alat Berat
Di tengah keterbatasan yang ada, pihak Kecamatan Mapitara tidak tinggal diam. Stefanus menyatakan bahwa laporan mengenai kondisi jalan yang tertutup longsor telah disampaikan kepada Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores. Pemerintah kecamatan berharap agar alat berat dapat segera dikirim ke lokasi untuk menyingkirkan material longsor dan batu besar yang menghalangi badan jalan.
“Saya sudah melaporkan ke Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores dan mudah-mudahan alat berat segera dikirim agar akses transportasi bisa berjalan lancar seperti semula,” ungkapnya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Pembukaan kembali akses jalan ini dinilai sangat krusial, tidak hanya untuk kelancaran distribusi logistik, tetapi juga untuk memulihkan denyut kehidupan ekonomi dan sosial warga. Jalan yang kembali bisa dilalui akan mempermudah mobilisasi ambulans, mempercepat penyaluran bantuan, dan memungkinkan warga memperoleh pelayanan kesehatan serta administrasi pemerintahan tanpa harus menempuh jalur alternatif yang jauh dan berisiko.
Selama jalan utama masih tertutup material longsor, warga tiga desa harus terus bergulat dengan keterbatasan. Dalam masa tanggap darurat pascagempa, terbukanya akses jalan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak untuk menjaga distribusi logistik dan memastikan pelayanan kemanusiaan dapat berjalan efektif. (Marianus Marselus)
Artikel Terkait
BPBD Jatim Kirim Empat Truk Logistik Tahap Awal untuk Korban Gempa NTT, Target Capai 100 Ton
KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kabupaten Bogor, Tiga Orang Diamankan Beserta Uang
Karhutla di Penajam Paser Utara Hanguskan 10,65 Hektare, BNPB Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa
MAXI Tour Boemi Nusantara Tuntaskan Ekspedisi 2.500 Km di Tana Toraja, Jelajah Lima Pulau Besar Indonesia