Gempa Flores: 75 Tewas, 92.735 Mengungsi, BNPB Kerahkan Tiga Jalur Distribusi Bantuan

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Gempa Flores: 75 Tewas, 92.735 Mengungsi, BNPB Kerahkan Tiga Jalur Distribusi Bantuan

PARADAPOS.COM - Bumi Flores masih belum tenang. Hingga Kamis sore, 20 Agustus 2026, tercatat 3.752 kali gempa susulan mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), memaksa 92.735 jiwa mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa mencapai 75 orang, sementara 907 lainnya luka-luka. Jumlah pengungsi melonjak drastis dari 59.000 orang hanya dalam hitungan hari, dan lebih dari 36.000 unit rumah dilaporkan rusak, memicu trauma mendalam bagi warga yang memilih bertahan di tenda darurat.

Laporan terbaru yang disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menggambarkan situasi yang masih jauh dari kondusif. Angka korban jiwa terus bertambah seiring proses evakuasi yang berlangsung di tengah guncangan susulan.

"Kami sudah mencatat bahwa ada sebanyak 75 jiwa yang sudah ditemukan meninggal. Dan ini bertambah 4 jiwa, 4 korban, dari kemarin yang kami sampaikan. Jadi kemarin 71, saat ini ada tambah 4 jiwa yang meninggal ditemukan, dan itu berasal dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan satu Kabupaten Nagekeo," ujar Berton dalam keterangannya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Penambahan korban jiwa tersebut menjadi pengingat bahwa darurat belum usai. Di sisi lain, lonjakan pengungsi yang signifikan menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas di lapangan. Wilayah Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Barat menjadi kantong-kantong pengungsian terpadat.

"Rumah yang rusak, kami mencatat adanya ketambahan 7.187 unit rumah rusak menjadi 36.163 unit yang rusak, baik itu rusak berat, sedang, maupun ringan," jelas Berton.

Kelompok Rentan Jadi Prioritas Utama

Di tengah gempuran gempa susulan yang magnitudonya masih berkisar 5 hingga 6, perhatian khusus diberikan kepada mereka yang paling rentan. Para lansia, ibu hamil, dan anak-anak menjadi fokus utama dalam upaya perlindungan dan evakuasi.

"Kelompok rentan seperti orang tua, anak-anak itu lebih memilih berada di pengungsian, baik itu pengungsian mandiri maupun pengungsian terpusat atau terorganisir. Jadi mereka jauh lebih aman ketika di luar," ungkap Berton.

Keputusan untuk tetap bertahan di pengungsian memang bukan tanpa alasan. Banyak rumah yang masih berdiri kokoh secara kasat mata, namun retakan halus di dinding dan fondasi menjadi momok yang tak bisa diabaikan. Ketakutan akan runtuhnya bangunan saat gempa susulan kembali terjadi masih membayangi.

Tiga Jalur Penembus Keterisolasian

Distribusi bantuan logistik dan tenda bukannya tanpa hambatan. Lonjakan pengungsi yang terjadi secara tiba-tiba serta sebaran warga yang tidak terpusat menjadi kendala klasik di lapangan. Menyadari hal tersebut, pemerintah menerapkan strategi distribusi melalui tiga moda transportasi sekaligus.

  1. Jalur Darat: Menjadi tulang punggung utama untuk menjangkau desa-desa yang akses jalannya masih dapat dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.
  2. Jalur Laut: Dikerahkan untuk menjangkau warga yang berada di pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar pesisir NTT.
  3. Jalur Udara: Helikopter dikerahkan sebagai opsi terakhir untuk menembus wilayah pelosok yang terisolasi secara geografis dan tidak dapat diakses melalui jalur darat maupun laut.

Strategi ini diambil untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang terlewat dari jangkauan bantuan, terutama di tengah kondisi alam yang masih tidak menentu.

Memangkas Birokrasi di Tengah Darurat

Untuk mempercepat proses pengambilan keputusan di tingkat tapak, Kepala BNPB mengeluarkan instruksi tegas. Para pejabat setingkat Eselon II diminta untuk menetap langsung di lokasi bencana di setiap kabupaten terdampak. Langkah ini diambil agar kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan dapat langsung diputuskan dan dieksekusi tanpa harus menunggu persetujuan dari pusat yang berbelit-belit.

Dengan manajemen krisis yang lebih dekat dengan lapangan, diharapkan respons terhadap setiap perubahan situasi bisa lebih cepat dan tepat sasaran. Kini, seluruh upaya difokuskan pada satu tujuan utama: memastikan puluhan ribu saudara kita yang tengah berada di pengungsian mendapatkan hak dasar mereka di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti tanah Flores.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar