Fakta Mengejutkan! Tarif TransJakarta Sebenarnya Rp 13.000, Disubsidi Hingga 86%

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 05:40 WIB
Fakta Mengejutkan! Tarif TransJakarta Sebenarnya Rp 13.000, Disubsidi Hingga 86%

Tarif Penuh TransJakarta Tanpa Subsidi Rp 13.000, Subsidi Pemerintah Capai Rp 9.700 per Penumpang

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengungkapkan bahwa tarif aktual layanan bus TransJakarta tanpa subsidi adalah sebesar Rp 13.000 per penumpang. Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan subsidi sebesar Rp 9.700 per orang, sehingga masyarakat hanya membayar Rp 3.500 untuk setiap kali perjalanan.

Pernyataan ini disampaikan Syafrin di Balai Kota Jakarta, Rabu (29/10/2025). Ia menegaskan bahwa besaran subsidi yang diberikan Pemprov DKI Jakarta sangat signifikan, yaitu mencapai 86% dari total biaya operasional TransJakarta. Hanya 14% dari biaya operasional yang ditanggung oleh penumpang melalui pembayaran tarif.

Kajian Kenaikan Tarif TransJakarta Berdasarkan Data Terbaru

Dishub DKI Jakarta terus melakukan kajian dan pembaruan data terkait potensi penyesuaian tarif. Kajian ini mempertimbangkan dua faktor utama, yaitu kemampuan membayar (ability to pay) dan keinginan membayar (willingness to pay) atau ATP-WTP.

Syafrin juga mengingatkan bahwa elastisitas tarif terhadap permintaan (demand) sangat tinggi. Artinya, setiap kenaikan tarif berpotensi berdampak langsung pada penurunan jumlah penumpang atau ridership TransJakarta.

Dampak Pemotongan DBH terhadap Subsidi TransJakarta

Syafrin menjelaskan bahwa pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) oleh pemerintah pusat turut mempengaruhi kondisi keuangan Jakarta. Situasi ini membuat pemerintah daerah harus terus melakukan simulasi untuk menemukan tarif ideal yang tidak memberatkan masyarakat, namun tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.

Sebagai catatan, tarif bus TransJakarta terakhir kali mengalami penyesuaian pada tahun 2005, yaitu dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.500 per penumpang. Sejak saat itu, tarif tidak pernah berubah meski biaya operasional terus meningkat.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar