Rekam Jejak Hukum Ahmad Ali: Strategi Bertahan Hidup Politik di PSI?

- Senin, 24 November 2025 | 09:25 WIB
Rekam Jejak Hukum Ahmad Ali: Strategi Bertahan Hidup Politik di PSI?
Rekam Jejak Hukum Ahmad Ali: Strategi Bertahan Hidup Politik di PSI?

Rekam Jejak Hukum Ahmad Ali: Strategi Bertahan Hidup Politik di PSI?

Politikus PDIP, Mohammad Guntur Romli, mengungkap rekam jejak kasus hukum yang membelit Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali. Sorotan utama tertuju pada penggeledahan rumah Ahmad Ali oleh KPK dan penyitaan uang miliaran rupiah serta barang mewah.

Penggeledahan KPK dan Penyitaan Rp3,4 Miliar

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diketahui pernah menggeledah rumah pribadi Ahmad Ali pada 4 Februari 2025. Dalam aksinya, tim penyidik KPK menyita uang tunai senilai Rp3,4 miliar, disertai dengan tas dan jam tangan mewah. Barang bukti ini diduga kuat terkait dengan kasus gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang melibatkan mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari.

Lompatan Politik dari NasDem ke PSI Dinilai Oportunis

Guntur Romli menyoroti perpindahan Ahmad Ali dari Partai NasDem ke PSI. Menurutnya, langkah ini semakin memperlihatkan pola oportunisme dalam karier politik Ali. Setelah kalah dalam Pemilu 2024 dan kehilangan pengaruh di NasDem, Ahmad Ali justru langsung mendapatkan posisi strategis sebagai Ketua Harian di PSI.

"Publik pun tertawa kecil karena ini bukan lompatan ideologis. Ini lompatan oportunis," ujar Guntur.

Pembelaan kepada Jokowi Dikaitkan dengan Strategi Bertahan Hidup

Guntur menilai, pembelaan vokal Ahmad Ali terhadap Presiden Jokowi bukanlah bentuk loyalitas, melainkan sebuah strategi bertahan hidup untuk mencari ruang aman secara politik. Hal ini disebutkannya sebagai respons atas sindiran Ahmad Ali yang menyinggung soal "nenek-nenek" yang masih menjabat ketua umum partai.

"Dengan situasi seperti itu, sangat mudah membaca kenapa hari ini ia menjadi pembela Jokowi paling vokal. Itu bukan soal loyalitas melainkan strategi bertahan hidup," tegas Guntur.

Guntur menyimpulkan bahwa sindiran dan suara keras Ahmad Ali bukanlah wujud keberanian, melainkan cerminan dari ketakutan yang ditutupi dengan teriakan untuk menyelamatkan citra dan sandaran politiknya saat ini.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar