Connie Rahakundini Klaim Diserang Buzzer Terafiliasi Istana Usai Kritik ke Prabowo

- Jumat, 03 April 2026 | 14:50 WIB
Connie Rahakundini Klaim Diserang Buzzer Terafiliasi Istana Usai Kritik ke Prabowo

PARADAPOS.COM - Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengklaim dirinya menjadi target serangan digital terkoordinasi dari pihak yang terafiliasi dengan Istana Presiden. Pengakuan ini ia sampaikan pada Kamis (2 April 2026), tak lama setelah memberikan koreksi terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Connie menduga serangan itu dilakukan oleh akun-akun robot yang bekerja masif, sebuah fenomena yang ia anggap mengancam iklim demokrasi.

Klaim Serangan Terorganisir dari Lingkaran Istana

Melalui unggahan di media sosialnya, Connie Rahakundini Bakrie dengan tegas menyatakan bahwa serangan yang ia terima bukanlah kritik biasa. Analis militer yang dikenal vokal itu mendeskripsikannya sebagai sebuah operasi digital yang terstruktur, melibatkan akun otomatis yang bergerak cepat dan sistematis untuk membungkus suara kritis.

Ia bahkan menyebut dirinya dijuluki "profesor hoaks" dalam gelombang serangan tersebut. Connie mengaku telah melacak sumber serangan dan menemukan koneksinya ke lingkaran kekuasaan.

“Setelah saya koreksi, langsung diserang. Saya sudah deteksi siapa yang menyerang, dan mereka terafiliasi ke Istana. Apakah ini perintah dari Prabowo?” tulisnya.

Peringatan Tegas untuk Ruang Demokrasi

Tak berhenti pada pengaduan, Connie langsung melayangkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa koreksi dan masukan adalah napas dari sebuah sistem demokrasi, bukan tanda pengkhianatan.

Dalam pernyataannya, ia mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam budaya "No King" di mana pemimpin dianggap kebal dari kritik.

“Jangan sampai ada gerakan No King di Indonesia, Pak. Ini negara demokrasi, bukan kerajaan. Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Pemimpin yang baik adalah yang mau mendengar koreksi, bukan yang langsung menyerang pengkritik,” tegas Connie.

Ia pun meminta presiden untuk mengevaluasi pihak-pihak di sekitarnya jika praktik seperti ini memang terjadi, guna menjaga kesehatan dialog publik.

Dampak dan Reaksi di Ruang Publik

Sebagai analis dengan rekam jejak panjang di isu pertahanan, pernyataan Connie ini segera memantik perbincangan luas di media sosial. Banyak warganet yang menyoroti insiden ini sebagai sebuah indikator yang mengkhawatirkan bagi kebebasan berekspresi di awal periode pemerintahan baru.

Dukungan untuk Connie bertebaran, diiringi kritik terhadap budaya buzzer yang dianggap menciptakan suasana intimidasi. Beberapa komentar yang beredar mencerminkan keresahan tersebut, seperti kekhawatiran bahwa ruang untuk berbeda pendapat semakin menyempit.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana Kepresidenan maupun dari Presiden Prabowo Subianto sendiri mengenai klaim yang dilayangkan Connie. Keheningan resmi ini justru turut diamati oleh para pengamat komunikasi politik.

Kasus ini kembali menyulut diskusi penting tentang batasan antara dukungan politik digital dan upaya pembungkaman sistematis. Di tengah kompleksitas era informasi, tuntutan untuk transparansi dan akuntabilitas kekuasaan menjadi semakin krusial untuk dijaga oleh semua pihak.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar