Pengamat Intelijen Nilai Wacana Pemakzulan Prabowo Sebagai Tameng Psikologis Kelompok Tertentu

- Selasa, 07 April 2026 | 01:00 WIB
Pengamat Intelijen Nilai Wacana Pemakzulan Prabowo Sebagai Tameng Psikologis Kelompok Tertentu

PARADAPOS.COM - Isu pemakzulan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang belakangan mencuat dinilai oleh seorang pengamat sebagai cerminan kegelisahan kelompok tertentu. Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik, menyebut wacana tersebut lebih merupakan strategi komunikasi politik untuk membangun tekanan, ketimbang sebuah ancaman yang substantif terhadap stabilitas pemerintahan.

Pola Klasik dalam Perspektif Intelijen

Menurut analisis Amir, seruan-seruan yang terdengar keras itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia melihatnya sebagai upaya membangun opini publik sekaligus mencari dukungan. Pola semacam ini, dari kacamata intelijen, kerap digunakan sebagai alat pengalih perhatian.

"Mereka berupaya membangun opini seolah ada ancaman besar, padahal yang terjadi adalah ketakutan terhadap kemungkinan terbongkarnya kasus-kasus besar,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (7/4/2026).

Tameng Psikologis dan Ketakutan Terselubung

Lebih lanjut, Amir Hamzah menduga narasi ancaman terhadap pemerintahan berfungsi sebagai semacam “tameng psikologis”. Tameng itu, tuturnya, dibangun oleh pihak-pihak yang justru merasa terancam oleh agenda-agenda pemerintahan, terutama di bidang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Arah isu yang beredar, meski tidak secara gamblang menyebut nama, dinilainya sebagai bagian dari operasi opini.

“Ancaman itu tidak nyata, tapi dikonstruksi. Ini bagian dari operasi opini. Orang yang berteriak keras justru sedang menyembunyikan ketakutan,” ungkap Amir.

Dengan demikian, gelombang wacana pemakzulan yang muncul ke permukaan ditafsirkan sebagai ekspresi kecemasan terhadap langkah-langkah tegas yang mungkin diambil pemerintah di masa mendatang. Analisis ini menempatkan dinamika politik terkini dalam kerangka yang lebih luas, mengaitkannya dengan motif dan ketegangan yang sering kali tersembunyi di balik panggung wacana publik.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar