Merosotnya perolehan suara Gerindra dan naiknya suara Golkar, jelas Henri, menunjukkan bahwa pemenang Pilpres 2024 bukan Prabowo melainkan Jokowi.
“Kemenangan terjadi karena usaha dan strategi Jokowi yang secara terbuka membela Pasangan Prabowo Gibran dengan berbagai cara. Tentu hal ini bagi Prabowo dan Gerindra serta pendukungnya harus menyadari, dan harus terus menghormati, bahkan tunduk pada politik Jokowi,” ungkapnya.
Henri mengungkapkan, Prabowo sebenarnya belum tentu menyukai Gibran Rakabming Raka, putra sulung Jokowi yang menjadi cawapres pendampingnya. Namun, katanya, Prabowo terpaksa harus menerimanya demi memanfaatkan power Jokowi untuk memenangkan Pilpres 2024.
“Nanti setelah dilantik jadi Presiden RI, tentu Prabowo ingin berkuasa penuh. Gak mungkin mau ada matahari kembar. Di situlah bibit konflik rebutan power antara Jokowi dan Prabowo sulit dielakkan,” jelasnya.
Terkhir, Henri menyampaikan, saat ini Jokowi tinggal punya waktu 6 bulan untuk “melemahkan” Prabowo.
“Kita lihat saja drama politik seperti apa yg”ang akan terjadi setelah periode honeymoon politik keduanya selesai. Apa masih tetap akrab saling dukung dengan kesepakatan, atau malah masuk periode saling tikam? Kita lihat saja,” ujar dia.
“Kalau lihat video ini kasihan juga pak Prabowo yg dicuekin Jokowi. Bibit bibit konflik memang sulit terhindarkan,” pungkasnya.
Sumber: rilpolitik
Artikel Terkait
Analisis APBN 2025: Penerimaan Turun, Belanja & Utang Naik, Defisit Nyentuh 2,92%
PDI Perjuangan Larang Kader Korupsi: Isi Surat Edaran & Arahan Rakernas 2026
Respons PDIP Soal Ambisi Kaesang & PSI Kuasai Jawa Tengah di Pemilu 2029
Megawati Institute Resmi Berdiri: Ketua Umum PDIP Resmikan Think Tank di HUT ke-53 Partai