"Tidak ada yang kuat melawan suara rakyat. Bung Karno yang kuat begitu, enggak kuat melawan," tegasnya.
Said Didu menggunakan metafora aliran air yang deras untuk menggambarkan situasi saat ini.
Ia melihat ada sebuah momentum besar yang sedang terbentuk untuk mengungkap berbagai persoalan.
Mencoba membendung aliran ini dengan paksa, menurutnya, hanya akan berakhir dengan jebolnya pertahanan.
"Kalau air mengalir sangat kencang dan Anda bendung, maka Anda jebol. Itu saya ingatkan kepada Jokowi," katanya.
Air bah yang ia maksud merujuk pada serangkaian kasus—yang ia catat berjumlah sembilan hingga 27 kasus—yang siap mengemuka.
Peringatan jangan jumawa ini menjadi semakin relevan dalam konteks politik saat ini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah hukum Kejaksaan Agung yang mulai menyentuh figur sekaliber Riza Chalid dinilai sebagai sinyal bahwa "bendungan" perlindungan hukum era sebelumnya mungkin tidak lagi sekokoh dahulu.
Situasi ini, menurut Said Didu, seharusnya menjadi bahan refleksi bagi Jokowi dan lingkaran terdekatnya, bahwa melawan arus deras opini dan proses hukum yang mulai berjalan adalah pertaruhan yang sangat berisiko.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Analisis Motif Politik dan Agenda Dinasti Keluarga
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Tanggapi Kritik Haji Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab