Roy menambahkan, pemilihan judul Jokowi's White Paper adalah upaya mereka untuk "membersihkan nama kampus tercinta," mengingat ketiganya adalah alumni UGM.
Buku yang diluncurkan pada 18 Agustus 2025 itu mendokumentasikan perjalanan para penulis dalam mengungkap dugaan ijazah palsu Jokowi sejak isu tersebut pertama kali mencuat.
Dalam buku itu, mereka juga menceritakan pengalaman saat mendatangi UGM untuk menagih skripsi Jokowi, di mana mereka diperlihatkan langsung skripsi yang disebut-sebut milik Jokowi oleh pihak universitas.
Rismon Sianipar, salah satu penulis, menjelaskan bahwa analisis forensik yang mereka lakukan terhadap tugas akhir tersebut menyimpulkan adanya kejanggalan.
Menurutnya, skripsi tersebut tidak layak disebut skripsi karena tidak memiliki lembar pengesahan dari Fakultas Kehutanan UGM, tempat Jokowi kuliah.
Selain itu, Rismon memaparkan bahwa buku tersebut juga memuat kejanggalan pada ijazah Jokowi, terutama file yang diunggah oleh Dian Sandi Utama pada April 2025.
Untuk membuktikan keaslian ijazah, Rismon menggunakan metode ELA (Error Level Analysis), yang menguji sebaran kompresi pada file JPG.
Di sisi lain, mantan Presiden Jokowi sendiri telah menyatakan keheranannya atas tudingan ijazah palsu yang kini bergulir di ranah hukum.
Ia sempat menyampaikan hal ini dalam reuni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980.
Kontroversi seputar ijazah ini terus menjadi perdebatan, meskipun pihak UGM telah memberikan klarifikasi terkait keaslian ijazah Jokowi di masa lalu.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Luhut Pandjaitan Bantah Keras Punya Saham Toba Pulp Lestari, Usul Pencabutan Izin ke Prabowo
PDIP Tolak Pilkada via DPRD, Usung E-Voting untuk Tekan Politik Uang
Menko Pangan Zulkifli Hasan Tinjau SPPG Kalikajar Wonosobo, Staf Bersihkan Sepatunya
Target PSI Jadi Kandang Gajah di Jateng 2029 Dinilai Mimpi Siang Bolong