AS Serukan Warga Negara Segera Tinggalkan Iran, Ancaman Serangan Membayang

- Selasa, 13 Januari 2026 | 00:50 WIB
AS Serukan Warga Negara Segera Tinggalkan Iran, Ancaman Serangan Membayang
AS Serukan Warga Negara Segera Tinggalkan Iran, Ancaman Serangan Membayang

AS Serukan Warga Negara Segera Tinggalkan Iran, Ancaman Serangan Membayang

Kedutaan Besar Amerika Serikat secara virtual di Iran telah mengeluarkan seruan mendesak kepada seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan negara tersebut. Peringatan ini dikeluarkan pada Senin, 12 Januari 2026, di tengah eskalasi ketegangan dan meningkatnya kemungkinan serangan AS menyusul demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Iran.

Imbauan Penting dari Kedubes AS untuk Warga di Iran

Dalam pernyataannya, Kedubes AS menegaskan bahwa warga yang tidak memungkinkan untuk segera pergi harus segera mempersiapkan tempat berlindung yang aman. Persiapan wajib termasuk mengumpulkan persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan untuk kebutuhan mendesak.

"Warga AS harus mengantisipasi pemadaman internet yang berkelanjutan, merencanakan cara komunikasi alternatif, dan, jika kondisi aman, mempertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju Armenia atau Turki," bunyi pernyataan resmi yang dikutip dari media.

Langkah-Langkah Darurat yang Harus Dijalankan

Pemerintah AS juga mendesak warganya untuk mengurangi kebergantungan pada bantuan pemerintah dalam proses evakuasi. Selain itu, warga AS diimbau untuk secara aktif menjauh dan menghindari segala bentuk lokasi serta keterlibatan dalam demonstrasi yang sedang berlangsung.

Rincian tindakan darurat yang disampaikan meliputi:

  • Segera tinggalkan Iran saat ini juga.
  • Buat rencana evakuasi mandiri yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS.
  • Jika tidak bisa pergi, segera cari dan tinggal di lokasi aman di dalam bangunan.
  • Siapkan persediaan logistik darurat: makanan, air, obat-obatan, dan barang penting lain.
  • Hindari semua area unjuk rasa, tetap tenang, dan tingkatkan kewaspadaan.

Pemicu Ketegangan: Demonstrasi dan Ancaman Militer AS

Eskalasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan ke Iran jika korban jiwa di kalangan demonstran terus berjatuhan. Lembaga HAM internasional melaporkan ratusan orang tewas dalam unjuk rasa yang telah berlangsung selama dua pekan.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengonfirmasi bahwa banyak demonstran telah tewas, meski angka pastinya masih sulit diverifikasi. "Jelas bagi kami bahwa sejumlah warga sipil telah tewas," ujarnya.

Sebelumnya, sebuah sumber militer di pasukan keamanan Iran mengungkapkan bahwa lebih dari 500 orang dilaporkan tewas selama kerusuhan, termasuk 110 anggota polisi dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Akar Masalah: Inflasi dan Unjuk Rasa

Gelombang demonstrasi di Iran pertama kali pecah pada 28 Desember 2025. Pemicu utamanya adalah kekhawatiran masyarakat atas inflasi tinggi yang didorong oleh melemahnya nilai tukar mata uang Rial Iran. Fluktuasi nilai tukar ini menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran yang signifikan, hingga mendorong Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, untuk mengundurkan diri.

Intensitas unjuk rasa semakin meningkat sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran diketahui memblokir akses internet secara luas untuk membatasi arus informasi.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar