BEI Buka Suspensi SSTM & BLUE, Kini Giliran Saham AMMS Dikunci!

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 23:45 WIB
BEI Buka Suspensi SSTM & BLUE, Kini Giliran Saham AMMS Dikunci!
Saham SSTM dan BLUE Dibuka Kembali, Giliran AMMS Dikunci BEI - Analisis Pergerakan

BEI Buka Kembali Suspensi Saham SSTM dan BLUE, Saham AMMS Justru Dikunci

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi membuka kembali perdagangan saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) dan PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) pada Kamis, 30 Oktober 2025. Kedua saham ini dapat kembali diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi pertama.

Namun, bersamaan dengan pembukaan itu, BEI justru memberlakukan suspensi atau penguncian perdagangan saham PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS). Keputusan ini diambil Bursa menyusul pergerakan harga saham AMMS yang dinilai di luar kebiasaan.

BLUE Diperdagangkan dengan Skema Khusus Pasca Suspensi

Saham BLUE masuk ke dalam papan pemantauan khusus dengan notasi X. Hal ini disebabkan saham BLUE telah disuspensi sejak 21 Oktober 2025. Sebagai konsekuensinya, perdagangan saham BLUE akan dilakukan dengan mekanisme full-call auction (FCA).

Sebelumnya, BLUE mengalami auto reject atas (ARA) selama tiga hari berturut-turut sebelum akhirnya di-suspensi. Pada perdagangan terakhirnya, Senin (20/10/2025), saham BLUE melesat 24,71 persen ke level Rp1.640. Yang lebih fenomenal, dalam kurun tiga bulan, BLUE telah mencetak kenaikan luar biasa sebesar 429,03 persen.

SSTM Juga Kembali Setelah Dua Hari ARA

Sementara itu, saham SSTM baru saja disuspensi pada perdagangan Rabu (29/10/2025). Suspensi ini dilakukan setelah SSTM mencatatkan ARA selama dua hari berturut-turut dengan total kenaikan 25 persen, mengantarnya ke harga Rp700.

AMMS Disuspensi Usai Catatkan Kenaikan Spektakuler

Giliran saham AMMS yang kini dikunci oleh BEI. Saham AMMS tercatat menguat 9,33 persen ke harga Rp492 pada Rabu (29/10/2025). Kinerjanya dalam sepekan terakhir sangat mencolok dengan penguatan 58,71 persen. Bahkan, dalam rentang satu bulan, AMMS telah melambung tinggi sebesar 127,78 persen, yang diduga menjadi pemicu tindakan suspensi dari Bursa.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar