Posisi Iran mendapat dukungan dari sekutunya. Perwakilan Rusia, Vasily Nebenzya, menyebut retorika AS berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Sementara China mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari situasi "hukum rimba" yang dapat memperluas konflik di kawasan Asia Barat.
Pergerakan Militer AS dan Peringatan Negara Arab
Laporan intelijen dan media, termasuk Fox News, mengindikasikan peningkatan pergerakan militer AS. Setidaknya satu gugus tugas kapal induk dikabarkan bergerak menuju Timur Tengah, meski Pentagon belum mengonfirmasi secara resmi. Langkah ini ditafsirkan sebagai persiapan serius untuk skenario militer.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengaku semua opsi sedang dipersiapkan untuk Presiden Trump. Di tengah eskalasi, sejumlah pemimpin kunci Timur Tengah seperti dari Mesir, Oman, Arab Saudi, dan Qatar dilaporkan telah melakukan komunikasi intensif dengan Trump. Mereka memperingatkan bahwa intervensi militer di Iran berisiko mengguncang ekonomi global dan merusak stabilitas regional yang sudah rapuh.
Korban Jiwa dan Situasi Terkini
Kelompok hak asasi manusia melaporkan korban jiwa dalam protes di Iran telah mencapai angka yang signifikan. Meski ketegangan di Teheran dilaporkan sedikit mereda, kehadiran militer AS di kawasan tetap menjadi fokus perhatian dunia. Situasi ini menjadikan Asia Barat sebagai titik panas geopolitik yang menentukan.
Artikel Terkait
Warganet Malaysia Khawatir Jadi Target AS Usai Unggahan Foto Satelit, Bercanda: Kami Cuma Punya Minyak Goreng!
India Desak 10.765 Warganya Segera Tinggalkan Iran, Ini Penyebab & Imbauannya
Arab Saudi & Negara Teluk Peringatkan AS: Serangan ke Iran Picu Krisis Minyak Global & Hancurkan Ekonomi Dunia
Kapal Induk AS Bergerak ke Timur Tengah: Serangan ke Iran dalam Hitungan Jam?