Menanggapi eskalasi ini, Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas menolak wilayahnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan komitmen untuk tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, darat, atau perairannya untuk operasi bermusuhan, serta tidak memberikan dukungan logistik apapun.
UEA menekankan bahwa dialog, de-eskalasi, dan penghormatan hukum internasional adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan krisis, mendorong penyelesaian secara diplomatik.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran yang Meningkat
Ketegangan antara Washington dan Tehran kembali memanas menyusul gejolak dalam negeri Iran dan kebijakan luar negeri AS. Media AS melaporkan, pergerakan USS Abraham Lincoln ke Teluk Oman adalah antisipasi kemungkinan serangan.
Pemerintahan AS menyatakan semua opsi, termasuk militer, masih dipertimbangkan dalam menangani Iran. Di sisi lain, pejabat Iran telah memperingatkan bahwa serangan apa pun akan dibalas dengan respons yang cepat dan meluas, mengingatkan pada konflik singkat pada Juni 2025 yang melibatkan serangan drone dan rudal balasan.
Situasi ini terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional, dengan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang berdampak luas pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Discombobulator: Senjata Rahasia AS Lumpuhkan Pertahanan Venezuela, Trump Ungkap Fakta
Kemajuan ICBM dan Nuklir Korea Utara: Ancaman Global yang Kian Nyata
Iran Siaga Tinggi Pasang Mural Ancaman untuk AS: Siap Perang Habis-habisan?
Wali Kota Shariff Aguak Selamat dari Serangan RPG: Mobil Antipeluru Selamatkan Nyawa, 3 Pelaku Tewas