Dokumen juga mencatat riwayat Epstein mengupayakan visa Rusia sejak 2010. Dalam satu pesan, ia menyebut memiliki "kenalan yang dekat dengan Putin" untuk memudahkan proses. Pada 2011, ia menyatakan preferensi bertemu Putin di Amerika karena peluang di Rusia dinilai kecil.
Peran Mantan Perdana Menteri Norwegia
Epstein berkali-kali membahas keinginannya bertemu Putin dengan Thorbjorn Jagland, mantan PM Norwegia. Dalam email Mei 2013, Jagland menawarkan bantuan untuk mengatur pertemuan, dengan menyebut Epstein bisa membantu diversifikasi ekonomi Rusia.
Tawaran "Informasi tentang Trump" untuk Rusia
Pada 2018, upaya Epstein semakin intens. Ia meminta Jagland menyampaikan pesan bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bisa mendapatkan "informasi" dengan berbicara padanya. Epstein mengklaim duta besar Rusia sebelumnya memahami Donald Trump setelah berbicara dengannya.
Email dengan "The Duke" dan Perempuan Rusia
Dokumen juga memuat email 2010 antara Epstein dan alamat bernama "The Duke", yang diduga adalah Pangeran Andrew. Epstein mengatur makan malam antara "The Duke" dengan seorang perempuan Rusia berusia 26 tahun yang digambarkannya sebagai "pintar, cantik, dan dapat dipercaya".
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002: Fakta, Tautan Tokoh Global, dan Dampaknya
Berkas Epstein Dibuka: Fakta Memo FBI Klaim Trump Dikendalikan Israel
Dokumen Epstein Bocor: Fakta Pengiriman Kain Kabah ke Jeffrey Epstein Terungkap
Kritik DPR: Iuran Indonesia Rp16,7 Triliun di Dewan Perdamaian Gaza Dikhawatirkan Dukung Militer Israel