Berpendidikan London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, Saif al-Islam awalnya dipandang sebagai wajah reformis Libya yang dapat diterima Barat. Ia terlibat dalam misi diplomatik sensitif, termasuk pembicaraan senjata pemusnah massal dan kompensasi untuk korban pengeboman Lockerbie.
Dari Tahanan ke Calon Presiden
Setelah revolusi 2011, Saif al-Islam ditangkap dan ditahan selama enam tahun di Zintan. Pada 2015, ia bahkan dijatuhi hukuman mati in absentia oleh pengadilan di Tripoli atas tuduhan kejahatan perang.
Ia dibebaskan pada 2017 dan sempat muncul kembali di panggung politik dengan mendaftar sebagai calon presiden pada 2021. Pencalonannya memicu kontroversi dan menjadi salah satu pemicu kebuntuan politik Libya, sebelum akhirnya didiskualifikasi.
Warisan dan Akhir Hidup yang Tragis
Kematian Saif al-Islam Gaddafi menutup babak lain dari dinasti Gaddafi yang pernah berkuasa selama empat dekade. Ia tewas di kota yang sama tempatnya pernah ditahan, mengakhiri hidupnya yang penuh liku dari kehidupan mewah, menjadi tahanan, hingga target pembunuhan.
Hingga berita ini diturunkan, detail dan motif di balik penembakan ini masih dalam investigasi. Kematiannya diperkirakan akan berdampak signifikan pada lanskap politik Libya yang sudah terfragmentasi.
Artikel Terkait
Jeffrey Epstein dan Putin: Fakta Upaya Pertemuan Rahasia Terungkap
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002: Fakta, Tautan Tokoh Global, dan Dampaknya
Berkas Epstein Dibuka: Fakta Memo FBI Klaim Trump Dikendalikan Israel
Dokumen Epstein Bocor: Fakta Pengiriman Kain Kabah ke Jeffrey Epstein Terungkap