PARADAPOS.COM - Iran mengklaim telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan di kalangan personel militer dan intelijen Amerika Serikat dalam serangkaian serangan balasan di Timur Tengah. Klaim yang dilayangkan melalui media dan institusi resmi Iran tersebut menyebutkan puluhan agen CIA tewas dan ratusan tentara AS menjadi korban, meski pihak Washington memberikan konfirmasi dengan angka yang jauh lebih rendah. Gelombang serangan ini menargetkan sejumlah pangkalan dan fasilitas AS di beberapa negara sekutu, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait, memperdalam ketegangan yang telah memanas antara kedua negara.
Klaim Korban di Kalangan Intelijen AS
Berdasarkan laporan dari kantor berita Tasnim yang dikutip pada Senin (2/3/2026), serangan Iran yang berfokus di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, disebutkan menewaskan enam perwira senior Badan Intelijen Pusat (CIA). Laporan yang sama juga menyebutkan dua agen CIA lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Hingga saat ini, klaim ini belum mendapatkan verifikasi independen atau tanggapan resmi dari otoritas intelijen Amerika Serikat.
Pernyataan Resmi Korps Garda Revolusi
Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan yang cakupannya lebih luas. Lembaga militer elite itu menyatakan bahwa serangan mereka terhadap berbagai pangkalan militer AS di kawasan telah mengakibatkan korban jiwa dan luka dalam jumlah besar.
"Fasilitas militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik, serta pangkalan-pangkalan lain berada di bawah serangan tanpa henti, yang sejauh ini mengakibatkan 560 tentara AS tewas atau luka," tegas pernyataan resmi IRGC tersebut.
Pernyataan itu memberikan rincian lebih lanjut, menyebutkan bahwa empat serangan drone terhadap pangkalan angkatan laut AS di Bahrain telah menyebabkan kerusakan serius pada pusat komando dan sistem dukungan. IRGC juga mengklaim telah melumpuhkan operasional Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait serta menyerang tiga objek di Pangkalan Mohammed Al Ahmad.
Peringatan Keras dari Diplomat Iran
Eskalasi ini juga diiringi oleh pernyataan politik yang keras dari Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pihak diplomatik Iran menegaskan sikap perlawanan dan keyakinan bahwa tekanan dari Washington tidak akan membuahkan hasil.
"Impian Pemerintah AS yang bermusuhan untuk menelan Republik Islam Iran serta memaksanya tunduk, tidak akan pernah terwujud," bunyi pernyataan tegas yang dikeluarkan oleh misi tersebut.
Respons Terbatas dari Pihak Amerika Serikat
Berbeda dengan klaim besar dari Tehran, pemerintah Amerika Serikat memberikan respons yang lebih terbatas dan hati-hati. Departemen Pertahanan AS (Pentagon) hanya mengakui tiga tentaranya tewas dalam serangan balasan Iran, yang disebut sebagai korban pertama sejak serangkaian serangan dimulai pada Sabtu (28/2/2026).
Komando Pusat AS (Centcom) memberikan penjelasan lebih rinci mengenai kondisi korban melalui sebuah pernyataan di media sosial. "Beberapa lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak, dan sedang dalam proses dipulangkan kembali bertugas. Operasi tempur utama terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung," jelasnya.
Disparitas yang mencolok antara angka korban yang diklaim Iran dan yang diakui oleh Pentagon menyisakan ruang ketidakpastian, sekaligus menggarisbawahi kompleksitas dan tantangan dalam mengonfirmasi informasi di tengah konflik bersenjata yang sedang berlangsung. Situasi ini terus dipantau ketat oleh pengamat keamanan internasional, mengingat potensinya untuk memicu eskalasi yang lebih luas.
Artikel Terkait
UEA Tutup Kedutaan di Teheran Usai Serangan Rudal dan Drone Iran
GCC Kutuk Serangan Iran dan Tegaskan Hak Bela Diri
Pernyataan Militer Israel Soal 70.000 Pasukan Cadangan Picu Diskusi Akhir Zaman di Medsos
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Gugur dalam Serangan Udara, Picu Duka dan Ketegangan Regional