Sorotan Media Singapura soal Kriminalitas Jakarta Tak Surutkan Minat Wisatawan, Justru Terpikat Rupiah Lemah

- Selasa, 02 Juni 2026 | 04:25 WIB
Sorotan Media Singapura soal Kriminalitas Jakarta Tak Surutkan Minat Wisatawan, Justru Terpikat Rupiah Lemah
PARADAPOS.COM - Media Singapura, The Straits Times, baru-baru ini menyoroti meningkatnya kejahatan jalanan di Jakarta yang viral di media sosial, hingga memunculkan perbandingan dengan Gotham City—kota fiksi penuh kriminalitas dalam komik Batman. Namun, sorotan tajam itu tak serta-merta menyurutkan minat wisatawan asal Singapura untuk berkunjung ke ibu kota Indonesia. Sebaliknya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini mencapai Rp17.840 justru menjadi daya tarik tersendiri, membuat Jakarta semakin digemari sebagai destinasi belanja dan kuliner yang lebih terjangkau.

Belanja di Tengah Sorotan Kriminalitas

Dalam laporan yang terbit pekan ini, sejumlah wisatawan Singapura mengaku tetap nyaman berlibur di Jakarta. Mereka tidak terlalu terpengaruh oleh reputasi kota ini yang kerap dikaitkan dengan aksi kriminal. Sebaliknya, mereka justru memiliki “buruan” lain yang ingin dibawa pulang. “Tidak ada waktu untuk takut, masih banyak belanjaan yang harus dibeli,” canda Noraini Rahmat (52), yang berlibur ke Jakarta bersama dua saudara perempuannya pada 22–25 Mei lalu. Ia menyebut agenda perjalanan mereka sebagai “maraton belanja penuh.”

Waspada, Tapi Tak Gentar

Hotel tempat Noraini dan saudara-saudaranya menginap di kawasan Menteng berada dalam jarak berjalan kaki dari sejumlah pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, tepatnya pada 8 Mei, seorang warga negara Polandia menjadi korban penjambretan oleh pengendara motor di Kebon Sirih, Menteng. Tak lama berselang, pada 14 Mei, seorang turis asal Italia kehilangan telepon genggamnya yang dirampas pengendara motor di dekat Bundaran Hotel Indonesia (HI), saat menunggu transportasi daring di pinggir jalan. Rekaman kamera dasbor menunjukkan korban sempat mengejar pelaku sebelum akhirnya terjatuh. Meski berbagai insiden itu terjadi di kawasan yang sama, Noraini dan rombongannya tidak merasa gentar. “Tentu saja ketika video seperti itu viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi sejujurnya, kami hanya berusaha berhati-hati seperti saat berada di Singapura atau kota besar lainnya,” ujar Noraini yang bekerja di sektor kesehatan. Ia menambahkan, “Jangan berdiri terlalu dekat ke jalan sambil memegang ponsel, jangan membiarkan tas terbuka. Hal-hal dasar seperti itu.” Agenda mereka padat: berburu busana muslim dengan harga terjangkau di Thamrin City, melihat-lihat merek lokal populer seperti Buttonscarves di mal-mal besar, hingga wisata kuliner di kawasan Blok M yang tengah naik daun. Mereka pun memanfaatkan jatah bagasi 30 kilogram untuk membawa pulang oleh-oleh seperti kue lapis dan camilan khas Indonesia. Menurut Noraini, nilai tukar yang menguntungkan membuat perjalanan belanja tahun ini terasa lebih menarik.

Daya Tarik Rupiah yang Melemah

Pandangan serupa disampaikan Marcus Tan (38), yang singgah di Jakarta selama tiga hari sepulang berlibur dari Nusa Tenggara Timur bersama teman-temannya. “Seratus dolar Singapura terasa sangat bernilai di sini. Saya bisa membeli lebih banyak barang, makan lebih banyak, dan tetap merasa mengeluarkan uang lebih sedikit dibandingkan jika melakukannya di Singapura,” tuturnya. Saat ini, nilai tukar dolar Singapura berada di kisaran Rp13.800, mendekati rekor tertinggi terhadap rupiah. “Bahkan untuk merek yang juga tersedia di Singapura, kadang tetap lebih murah di sini setelah dikonversi ke dolar Singapura,” tambah Tan. Sementara itu, Nur Syarifah (29) yang berkunjung ke Jakarta bersama lima teman dan seorang balita berusia tiga tahun mengaku tetap merasa nyaman datang ke ibu kota. Mereka mengisi waktu dengan mengunjungi restoran viral dan kafe populer di TikTok yang tersebar di berbagai kawasan, termasuk Kemang dan SCBD. “Kami tidak akan datang jika benar-benar merasa tempat ini berbahaya, apalagi ada balita dalam rombongan. Dibandingkan beberapa kota di Eropa yang terkenal dengan kasus pencopetan, Jakarta masih terasa cukup aman bagi kami,” ujar Syarifah.

Wisatawan Singapura: Penyumbang Terbesar Kedua

Singapura merupakan penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lebih dari 320.000 wisatawan Singapura berkunjung ke Indonesia pada kuartal pertama 2026. Meski demikian, para wisatawan yang diwawancarai mengakui bahwa berbagai insiden kejahatan membuat mereka lebih waspada saat berada di ruang publik. “Tentu saja kita tetap harus siaga,” kata Syarifah. “Tapi kami tidak merasa tidak aman saat berjalan-jalan di mal atau kawasan kafe di sini. Sejujurnya, kemacetan lalu lintas masih lebih membuat stres dibandingkan kejahatan.”

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar