Iran Rilis Rekaman Terakhir Khamenei, Penerus Tolak Proposal Damai

- Jumat, 27 Maret 2026 | 04:50 WIB
Iran Rilis Rekaman Terakhir Khamenei, Penerus Tolak Proposal Damai

PARADAPOS.COM - Pemerintah Iran merilis cuplikan dari rekaman keamanan dalam ruangan yang mengabadikan suasana tenang sesaat sebelum Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia. Gambar yang beredar luas dan dikonfirmasi oleh berbagai media itu menunjukkan Khamenei sedang membaca Al-Qur'an di kediamannya, tak lama sebelum lokasi tersebut diserang pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan yang ditudingkan kepada AS dan Israel tersebut menandai babak baru yang tegang dalam konflik regional.

Momen Tenang Sebelum Tragedi

Dalam foto yang berasal dari rekaman CCTV itu, Ayatollah Khamenei terlihat duduk dengan tenang di sebuah ruangan. Ia mengenakan setelan khasnya berwarna cokelat, dengan kitab suci Al-Qur'an terbuka di hadapannya. Suasana hening dalam gambar itu berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi kemudian. Di atas sebuah meja di sampingnya, dua bingkai foto tampak menghadap sang pemimpin: potret pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhullah Khomeini, dan Jenderal Qassem Soleimani yang tewas dalam serangan drone AS tahun 2020.

Penerus yang Ambil Sikap Keras

Kepemimpinan tertinggi Iran kini beralih ke tangan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan selamat dari serangan mematikan itu. Langkah-langkah awal penerusnya segera mengindikasikan arah kebijakan yang akan diambil. Menurut informasi dari seorang pejabat senior Iran yang berbicara kepada Reuters pada Selasa, 17 Maret 2026, Mojtaba telah menolak sebuah proposal deeskalasi yang disampaikan melalui negara-negara perantara.

Pejabat yang tidak ingin namanya disebutkan itu menjelaskan, "Mojtaba menuntut Israel dan AS 'bertekuk lutut' lebih dulu."

Sumber tersebut menambahkan bahwa sikap pemimpin baru Iran terhadap tawaran perdamaian itu sangat tegas. Dua negara perantara disebut telah menyampaikan proposal kepada Menteri Luar Negeri Iran untuk mengurangi ketegangan atau gencatan senjata dengan Washington.

"Saat itu bukan 'waktu yang tepat untuk berdamai hingga Amerika Serikat dan Israel dibuat bertekuk lutut, menerima kekalahan, dan membayar kompensasi'," ungkap sumber Reuters itu, mengutip respons Mojtaba, meski detail proposal tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.

Misteri dan Luka dari Serangan

Sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei sama sekali belum menampakkan diri di depan publik. Ketidakhadirannya ini memicu berbagai spekulasi mengenai kondisinya. Beberapa pejabat Iran menyebutkan bahwa ia mengalami luka-luka ringan akibat serangan yang merenggut nyawa ayahnya. Situasi ini menciptakan suasana yang penuh kehati-hatian di Teheran, di mana kepemimpinan baru tengah membentuk kebijakan di tengah duka dan tuntutan balas dendam yang kuat dari dalam negeri.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar