Iran Mobilisasi Satu Juta Pejuang Hadapi Ancaman Invasi AS

- Jumat, 27 Maret 2026 | 13:50 WIB
Iran Mobilisasi Satu Juta Pejuang Hadapi Ancaman Invasi AS

PARADAPOS.COM – Iran telah memobilisasi lebih dari satu juta pejuangnya di garis depan selatan untuk menghadapi ancaman invasi darat Amerika Serikat. Mobilisasi besar-besaran ini terjadi pasca gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, di tengah laporan mengenai gelombang sukarelawan yang mendaftar ke pasukan paramiliter Basij dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Situasi ini berkembang bersamaan dengan proses diplomasi yang tegang, setelah Iran mengirimkan tanggapan berisi syarat-syarat berat atas proposal AS yang diajukan melalui perantara.

Mobilisasi "Benteng Manusia" Menghadapi Ancaman Darat

Laporan dari sumber militer yang dikutip media Tasnim pada Kamis (26/3/2026) mengungkapkan gelombang antusiasme yang melanda pusat-pusat pendaftaran militer di berbagai wilayah. Para pejuang ini dikabarkan bersiap menciptakan perlawanan sengit jika pasukan asing benar-benar melancarkan serangan.

Menurut sumber tersebut, semangat tersebut muncul di antara para pejuang darat Iran untuk menciptakan neraka historis bagi Amerika di tanah Iran.

Sumber militer itu juga mencatat bahwa selain mengorganisir lebih dari satu juta pejuang untuk pertempuran darat, dalam beberapa hari terakhir telah terjadi peningkatan besar permintaan dari pemuda Iran yang ditujukan kepada pusat-pusat Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Angkatan Darat untuk juga berpartisipasi dalam pertempuran ini.

Pertaruhan Strategis di Selat Hormuz

Di tengah ketegangan darat, perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Sumber militer Iran menuding Amerika Serikat berencana membuka paksa selat tersebut dengan taktik yang dianggap agresif.

Pihak Teheran menegaskan bahwa kedaulatan atas wilayah tersebut adalah hak yang tidak dapat diganggu gugat, sekaligus menjadi dasar untuk memastikan komitmen perdamaian dari pihak lawan.

“AS ingin membuka Selat Hormuz dengan taktik bunuh diri dan penghancuran diri; itu tidak masalah. Kami siap untuk strategi bunuh diri mereka dieksekusi dan agar Selat tetap tertutup,” tegas sumber militer tersebut.

Jalur Diplomasi yang Dipenuhi Syarat Berat

Meski persiapan militer terus berlangsung, pintu diplomasi secara teknis belum sepenuhnya tertutup, meski diliputi ketidakpercayaan yang mendalam. Iran diketahui telah menyampaikan tanggapan resmi atas 15 poin proposal Amerika Serikat yang disampaikan pada Rabu (25/3/2026) malam.

Namun, jawaban yang diberikan bukanlah tanda penyerahan diri. Teheran justru mengajukan sejumlah prasyarat yang tajam sebagai dasar untuk gencatan senjata, termasuk penghentian total segala tindakan agresif, jaminan nyata agar perang tidak terulang, pembayaran ganti rugi, serta pengakhiran permusuhan di semua front—termasuk bagi kelompok-kelompok sekutu regionalnya.

Kecurigaan dan "Proyek Penipuan" Ketiga

Di balik meja perundingan, pihak Iran menyimpan skeptisisme yang kuat. Bagi para pembuat kebijakan di Teheran, tawaran negosiasi dari Washington dicurigai sebagai manuver politik—atau yang mereka sebut "proyek penipuan ketiga". Tudingan ini merujuk pada tiga tujuan tersembunyi: membangun citra damai di mata dunia internasional, menekan harga minyak global, dan yang terpenting, membeli waktu untuk mempersiapkan serangan darat baru.

Kecurigaan ini berakar dari pengalaman langsung konflik sebelumnya. Seperti diungkapkan sumber militer, pengalaman pahit perang 12 hari di Juni 2025 telah mengubah keraguan menjadi sebuah kepastian.

"Jika sebelumnya Iran ragu pada komitmen Amerika, kini keraguan itu telah menjadi kepastian bahwa mereka memulai perang justru saat sedang bernegosiasi," lanjutnya.

Dengan demikian, bola kini berada di pihak Washington. Respons Amerika Serikat terhadap syarat-syarat Iran akan menentukan apakah proposal ini menjadi jalan menuju gencatan senjata, atau justru menjadi pendahuluan bagi sebuah konflik berskala besar yang konsekuensinya akan dirasakan jauh melampaui wilayah Timur Tengah.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar