Direktur PBB Tangguhkan Tugas, Protes Klaim Pembungkaman Suara

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 05:25 WIB
Direktur PBB Tangguhkan Tugas, Protes Klaim Pembungkaman Suara

PARADAPOS.COM - Direktur Eksekutif Patriotic Vision (PVA), Mohamad Safa, secara mengejutkan mengumumkan penangguhan tugasnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan ini bukan sekadar pengunduran diri biasa, melainkan sebuah langkah protes yang menyoroti isu serius: klaim pembungkaman suara dan pembatasan kebebasan berpendapat di dalam organisasi internasional tersebut. Safa mengaku mendapat tekanan sistematis setelah menyampaikan pandangan kritis terkait konflik di Gaza dan Iran.

Tekanan dan Ancaman yang Dihadapi

Menurut penuturan Safa, gelombang tekanan mulai ia rasakan sejak tahun 2023. Setelah menyuarakan pandangan yang berbeda, ia menghadapi serangkaian tindakan yang makin meningkat intensitasnya. Awalnya berupa kritik dan tuduhan, yang kemudian berlanjut pada sanksi finansial. Yang lebih mencemaskan, pria itu juga mengklaim bahwa keselamatan dirinya beserta keluarga mulai diintai dengan ancaman yang nyata.

“Saya menerima ancaman pembunuhan, dikenai sanksi finansial, dan sekarang saya disensor. Hak saya untuk berbicara dibatasi,” ungkapnya.

Penyalahgunaan Kekuasaan oleh Oknum Tertentu

Safa dengan tegas menyatakan bahwa ia kini tidak lagi merasa bebas menyampaikan pendapat di lingkungan PBB. Ia menuding adanya oknum pejabat senior yang diduga menyalahgunakan wewenangnya untuk membungkam narasi-narasi tertentu. Narasi yang dibatasi itu, menurut analisisnya, seringkali berseberangan dengan kepentingan kelompok-kelompok berpengaruh yang memiliki akses kuat ke dalam sistem.

Ia menekankan bahwa tekanan yang dialaminya ini tidak berasal dari mekanisme resmi PBB, melainkan dari tindakan sejumlah individu yang diduga bekerja untuk melayani kepentingan lobi-lobi kuat. Situasi inilah yang akhirnya mempersempit ruang baginya untuk berlaku jujur dan vokal.

Pola Disinformasi dan Eskalasi Konflik

Lebih jauh, mantan pejabat PBB itu melihat masalah ini sebagai bagian dari pola yang lebih luas. Ia menyoroti dugaan adanya kampanye disinformasi global yang sengaja mendramatisir ancaman dari Iran. Tujuannya, menurut penilaiannya, adalah untuk membentuk opini publik yang mendukung jalan militer, sebuah pola yang ia klaim juga terjadi dalam konteks konflik Gaza. Pandangan ini menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap dinamika geopolitik yang mempengaruhi kerja-kerja organisasi perdamaian dunia.

Mundur Sebagai Bentuk Protes

Atas dasar berbagai hal tersebut, Safa memilih untuk menarik diri sementara dari semua peran dan tanggung jawabnya di PBB. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap kondisi internal yang dinilainya sudah tidak sehat dan jauh dari prinsip transparansi. Langkah ini mencerminkan sebuah keputusasaan sekaligus keberanian untuk menyuarakan ketidakberesan dari dalam.

Dengan nada tegas, Safa menyatakan bahwa ia tidak akan mempertimbangkan untuk kembali sebelum perubahan yang nyata benar-benar terwujud. Harapannya, reformasi substansial dapat dilakukan agar prinsip dasar kebebasan berekspresi dan keadilan dapat kembali menjadi fondasi kerja PBB ke depannya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar